Kerusakan Lingkungan Akibat Penggalian di Pinggiran Kota Waikabubak Akan Menimbulkan Dampak Sosial Meluas

PASOLA POS.COM – Hasil pantauan media serta investigasi langsung di dalam Kota Waikabubak, yang merupakan ibu kota Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, menunjukkan bahwa penataan alam kota yang selama ini terlihat apik dan menjanjikan keindahan mulai terancam rusak. Kerusakan tersebut dipicu oleh aktivitas penggalian material berupa batu potong dan tanah agregat di sejumlah wilayah pinggiran kota. Akibatnya, kondisi lingkungan sekitar Kota Waikabubak kini berada di ambang kerusakan serius.

Hingga tanggal 6–7 Februari 2026, belum terlihat adanya perhatian atau tindakan tegas dari instansi berwenang di Pemerintah Daerah Kabupaten Sumba Barat terkait penggerusan perbukitan di beberapa lokasi pinggiran Kota Waikabubak. Sejumlah warga menyatakan kekhawatirannya bahwa kerusakan alam tersebut akan berdampak luas dan berkepanjangan bagi masyarakat.

Berdasarkan berbagai studi, aktivitas penggalian perbukitan di pinggiran kota—baik untuk penambangan galian C, material urukan, maupun pembangunan infrastruktur—menimbulkan dampak signifikan terhadap lingkungan, sosial, dan ekonomi. Kegiatan tersebut menyebabkan kerusakan ekosistem karena mengubah topografi dan morfologi lahan secara drastis.

Disadari atau tidak, hasil kajian ilmiah menunjukkan bahwa dampak penggalian perbukitan antara lain meningkatkan risiko bencana alam. Tanah longsor berpotensi terjadi akibat pengeprakan bukit secara serampangan yang membuat lereng menjadi curam dan tidak stabil, terutama saat musim hujan. Selain itu, hilangnya vegetasi dan tutupan tanah mengurangi daya serap air sehingga meningkatkan sedimentasi yang terbawa ke kawasan permukiman di bawahnya, yang berpotensi memicu banjir bandang maupun banjir lumpur.

Kerusakan lingkungan dan ekosistem juga akan berdampak serius di masa depan, antara lain hilangnya habitat flora dan fauna, meningkatnya erosi dan sedimentasi, serta menjadikan lahan semakin kritis. Dampak lainnya menyentuh langsung kehidupan masyarakat, seperti polusi udara dan debu, kebisingan, gangguan sistem hidrologi, serta penurunan kualitas dan kuantitas sumber air.

Dari sisi sosial ekonomi, kerusakan lingkungan ini berpotensi menurunkan produktivitas pertanian akibat rusaknya lahan, merusak infrastruktur jalan karena aktivitas truk bermuatan berat, serta meningkatkan biaya kesehatan masyarakat akibat paparan polusi.

Menurut Yoris Moto, saat ditemui di Waikabubak pada 7 Februari 2026 dalam diskusi santai, dampak negatif penggalian perbukitan akan menimbulkan citra buruk bagi pembangunan ke depan. Bahkan, risikonya akan jauh lebih besar apabila terjadi bencana alam yang menimpa masyarakat. Ia menegaskan bahwa jika ditinjau dari manfaat ekonomi, aktivitas tersebut cenderung hanya menguntungkan kepentingan pribadi dan tidak memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat luas.

Ia juga menekankan pentingnya pelaksanaan studi AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) yang benar sebelum aktivitas penggalian dilakukan. Menurutnya, diperlukan regulasi tata ruang yang ketat serta upaya mitigasi bencana yang serius untuk meminimalkan risiko yang merugikan masyarakat. Yoris Moto meminta Pemerintah Daerah Kabupaten Sumba Barat agar memberikan perhatian serius terhadap persoalan ini guna mengantisipasi dampak terburuk bagi masyarakat luas.

(Redaksi*** Paul, Agus)

 

Tinggalkan Balasan