Meski Tinggal Di Posko Darurat Para Pengungsi Tetap Mendapatkan Pelayanan Terbaik Dari Pemerintah Daerah
PASOLAPOS-COM – Ratusan warga pendatang dari Sumba,Nusa Tenggara Timur terpaksa di evakuasi ke posko darurat Dinas sosial kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat. (Jumat,17-01-2015).
Hal itu di lakukan menyusul terjadinya kerusuhan pada hari Rabu, 15 kemarin 2025, kerusuhan yang berujung pada aksi pembakaran dan persekusi ini di duga di picu oleh peristiwa pelecehan seksual yang meninpa FS warga desa Nisa, Kecamatan Wuha, kabupaten Bima.
FA diduga menjadi korban pelecehan seksual oleh seorang pria asal sumba saat berbelanja di pasar rakyat Tentet.
Pihak keluarga korban kemudian mencari pelaku di pasar,namun dihadang oleh sejumlah pemuda asal sumba, akibatnya warga marah hingga melakukan aksi pembakaran 6 sepeda motor dan 1 kios milik warga Sumba.
Dari situlah kerusuhan makin membesar hingga memaksa di lakukan evakuasi terhadap ratusan warga Sumba.
Pada Rabu malam tercatat ada 183 warga pendatang yang di evakuasi kepolsek Woha, mereka terdiri atas anak-anak,remaja dan orang tua.
Namun karena ruang Polsek tidak memadai 103 orang warga pendatang ini selanjutnya di evakuasi dinsos Bima, selanjutnya 80 orang lainnya,di ungsikan kemapolres Bima.
Hingga kemudian jumlah warga yang di ungsikan terus bertambah, berdasarkan pendataan terakhir tercatat ada 238 orang warga Sumba yang di evakuasi.
Kepala dinsos kabupaten Bima Tajudin mengatakan, sebagian besar warga yang di ungsikan adalah mereka yang menetap dan mencari nafkah di wilayah Tente, kecamatan Woha.
Mereka di evakuasi secara bertahap keposko darurat karena adanya insiden keributan di kompleks pasar rakyat Tente.
Meski tinggal di Posko darurat para pengungsi tetap mendapatkan pelayanan terbaik dari pemerintah daerah.termasuk soal pemenuhan kebutuhan makanan dan minumannya.
(Sipri Mone)












