PASOLAPOS.COM – WAIKABUBAK || Rabu (28/5/2025) berlangsung sosialisasi Adiwiyata yang diikuti guru, peserta didik, pengurus Komite dari beberapa sekolah di Kantor Camat Kota Waikabubak, Sumba Barat, NTT. Materi sosialisasi disampaikan oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sumba Barat, Melkianus Lede Ubu Lage,SE; didampingi Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup , Yulius Kadobo, ST, Sekretaris Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Sumba Barat, Muhammad Bumba Umbu Nay,ST,M.M, Camat Kota Waikabubak, Dominggus B. Mesa,S.S.
Kata ADIWIYATA berasal dari kata Sansekerta “ADI” dan “WIYATA”. Adi mempunyai makna : besar, agung, baik, ideal atau sempurna. Wiyata mempunyai makna : tempat di mana seseorang mendapatkan ilmu pengetahuan, norma dan etika dalam berkehidupan sosial. Tujuan utama Program Adiwiyata : mewujudkan warga sekolah yang bertanggung jawab dalam upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup melalui tata kelola sekolah yang baik untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.
Hasil yang diharapkan dari sosialisasi ini adalah warga sekolah berperilaku ramah lingkungan hidup dan dapat : menjaga kebersihan, sanitasi dan drainase. Mengelola sampah melalui 3R (reduce dan reuse : upaya pengurangan timbunan sampah dan penggunaan ulang barang/sampah dan recycle upaya daur ulang sampah). Melakukan penanaman dan pemeliharaan pohon/tanaman. Melakukan penghematan dan konservasi air, melakukan penghematan konservasi energi, dan melakukan inovasi perilaku ramah lingkungan hidup (PRLH) lainnya.
Lebih lanjut Kadis Lingkungan Hidup, Melkianus menjelaskan kepada peserta beberapa contoh upaya pengurangan sampah : membawa tempat minum dan makan guna ulang, menyediakan air minum isi ulang, acara sekolah bebas sampah plastik dan styrofoam; makanan dan minuman tanpa kemasan plastik sekali pakai yang dijual di kantin. Makanan dan minuman tanpa kemasann styrofoam yang dijual di kantin, kampanye tidak menggunakan plastik, menggunakan sedot guna ulang; makan tanpa sendok plastik, menghabiskan makanan dan minuman.
Upaya lainnya antara lain : menggunakan botol plastik bekas untuk media tanam; menggunakan cup kopi plastik untuk tempat pensil; menggunakan kertas bolak-balik untuk buku catatan/notes. Menggunakan kertas bekas sebagai amplop/pembungkus; menggunakan amplop berulang; menggunakan catridge printer yang diberikan pada agen printer, dan upaya lainnya.
Ditekankan pula oleh Kadis Lingkungan Hidup, bahwa penting dilakukan kampanye dan publikasi gerakan. Contoh publikasi gerakan : internalisasi gerakan kepada warga sekolah; sosialisasi gerakan kepada pihak terkait; kampanye pengelolaan sampah melalui 3R; kampanye konservasi energi dan air; pemberitaan aksi, kreasi dan inovasi gerakan melalui media sosial dan media massa; pameran aksi, kreasi dan inovasi gerakan. Media publlikasi yang digunakan : majalah dinding sekolah , poster/slogan, buletin/majalah sekolah, website/blog,pameran, media sosial, media cetak, media elektronik.
Pemantauan dan evaluasi dilakukan minimal 1 tahun sekali dengan melibatkan kepala sekolah, dewan pendidikan, komite sekolah, peserta didik dan masyarakat untuk mengetahui keberhasilan dan hambatan yang ditemui. Digunakan untuk melakukan tindakan perbaikan dan pencegahan dari rencana gerakan PBLHS yang belum tercapai.
Pemenuhan kriteria sekolah adiwiyata melalui verifikasi lapangan : dilakukan jika berdasarkan hasil penilaian dokumen masih diperlukan data tambahan dilakukan melalui : wawancara atau diskusi; pemeriksaan /observasi kondisi lingkungan sekolah; pemeriksaan dokumen serta bukti pendukung; dan/atau metode lain sesuai kebutuhan.
Sedangkan pemenuhan kriteria sekolah adiwiyata antara lan : penilaian dokumen dan verifikasi lapangan. Gerakan Peduli Berbudaya Lingkungan Hidup Sekolah (PBLHS) merupakan aksi kolektif secara sadar, suka rela, berjenjang, dan berkelanjutan yang dilakukan oleh sekolah dalam menerapkan perilaku ramah lingkungan hidup.
Tujuan gerakan PBLHS : mewujudkan penerapan perilaku ramah lingkungan hidup oleh warga sekolah, dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup sekolah, lingkungan hidup sekitar sekolah dan daerah. Sedangkan tahapan PBLHS adalah : perencanaan Gerakan PBLHS, pelaksanaan gerakan PBLHS, serta pemantauan dan evaluasi pelaksanaan Gerakan PBLHS.
Materi sosialisasi disampaikan pula oleh Sekretaris Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Sumba Barat, Muhammad, menjelaskan tentang Pengembangan Kurikulum Berbasis Lingkungan , dengan pengembangan model-model pembelajaran lintas mata pelajaran; penggalian pengembangan materi dan persoalan lingkungan hidup yang ada di masyarakat sekitar.
Pengembangan metode belajar dan studi lapangan berbasis lingkungan dan budaya; membuat kegiatan kurikuler untuk pengembangan kesadaran pelajar terhadap berbagai persoalan lingkungan. Serta pengembangan kegiatan berbasis partisipatif dengan menciptakan kegiatan ekstra kurikuler di bidang lingkungan hidup berbasis partisipasif.
Mengikuti aksi lingkungan hidup yang dilakukan oleh pihak luar sekolah bagi pelajar sekolah, serta membangun kegiataan kemitraan atau memprakarsai pengembangan pendidikan lingkungan sekolah.
Oleh Agustinus B. Wuwur, Kepala Biro Pasolapos Sumba Barat












