Oleh Agustinus B. Wuwur
Kepala Biro Pasolapos Sumba Barat / Ketua KOMSOS Paroki St. Petrus dan Paulus Waikabubak
PASOLAPOS.COM || Waikabubak – Panti Asuhan Santo Yosef Waikabubak lahir dari panggilan belas kasih terhadap anak-anak yatim piatu di Pulau Sumba. Sejarah pendiriannya bermula pada tahun 1991, digagas oleh almarhumah Sr. Matea Wijaya, SCMM, yang tergerak oleh realitas banyaknya anak-anak terlantar yang membutuhkan perhatian, kasih sayang, dan masa depan yang lebih layak.
Hal tersebut disampaikan Sr. Yolenta, SCMM saat ditemui Pasolapos pada Selasa (3/2/2026) di ruang Kepala Sekolah TK Santa Anna Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat, NTT. Dalam perbincangan tersebut, Sr. Yolenta menjelaskan bahwa tujuan utama pendirian panti asuhan adalah memanusiakan manusia—memberikan kasih sayang, rasa aman, serta kenyamanan bagi anak-anak yang sebelumnya hidup dalam keterbatasan.
Saat ini, Panti Asuhan Santa Maria mengasuh 24 anak yang berasal dari berbagai wilayah, antara lain Sumba Barat Daya (Kodi dan Wewewa) serta Sumba Barat (Loli). Sejak berdiri, panti ini telah melahirkan anak-anak asuh yang berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi. Di antaranya Even dan Martin yang kini bekerja di Jakarta, serta Burga yang telah menjadi PNS dan bertugas sebagai bidan di Waimangura, Sumba Barat Daya.
Sr. Yolenta menuturkan bahwa anak-anak panti asuhan datang dengan latar belakang yang beragam. Ada yang yatim, piatu, yatim piatu, ada pula yang ibunya mengalami gangguan jiwa, ibu menikah lagi, bahkan ada anak yang datang tanpa status keluarga yang jelas. Seluruh anak diterima melalui proses pengantaran oleh orang tua atau keluarga dengan data yang lengkap sesuai kondisi masing-masing.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, panti asuhan mengandalkan prinsip kemandirian. Anak-anak dan para pengasuh memelihara ternak seperti babi, ayam, bebek, itik, anjing, serta mengelola lahan sawah. Selain itu, terdapat pula donatur lokal yang secara konsisten menunjukkan kepedulian terhadap keberlangsungan hidup anak-anak panti.
Dukungan juga datang dari Dinas Sosial Kabupaten Sumba Barat yang setiap bulan Agustus memberikan bantuan berupa sembako, alat tulis, dan seragam sekolah melalui kegiatan anjangsana pegawai dinas. Dalam kondisi yang penuh keterbatasan tersebut, Sr. Yolenta bersama Sr. Sisilia dan Ibu Marga sebagai penanggung jawab panti, bersinergi dengan para suster komunitas SCMM Waikabubak untuk mengasuh anak-anak dengan penuh ketulusan.
Lebih dari sekadar pengasuhan, anak-anak panti dibekali edukasi kemandirian. Mereka diajarkan memahami proses memperoleh sesuatu melalui kerja nyata, seperti bertani dan memelihara ternak di waktu luang. Semua aktivitas tersebut menjadi sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Menurut Sr. Yolenta, yang telah delapan tahun berkarya di komunitas SCMM Waikabubak, nilai terpenting yang ditanamkan kepada anak-anak adalah kepercayaan pada diri sendiri. “Jangan mengharapkan belas kasih. Setiap orang memiliki kemampuan,” tegasnya.
Sistem bina asuh diterapkan secara berjenjang. Anak-anak SMA diberi tanggung jawab membina adik-adik yang duduk di bangku SMP dan SD, mulai dari tugas-tugas harian hingga pendampingan belajar. Setiap kinerja dievaluasi bersama. Anak-anak yang menunjukkan tanggung jawab dan prestasi diberikan penghargaan berupa tabungan yang disimpan dalam celengan dan dibuka pada akhir tahun untuk digunakan sesuai kebutuhan.
Pendekatan ini menumbuhkan kepercayaan diri, disiplin, ketekunan belajar, serta kepedulian terhadap kebersihan dan kerapian. Hasilnya pun nyata. Beberapa anak asuh berhasil meraih prestasi akademik, termasuk juara pertama di SMA Sint. Pieter Waikabubak.
Saat ditanya Pasolapos mengenai perasaan menjalani berbagai tanggung jawab—sebagai pemimpin komunitas biara Waikabubak, Kepala TK St. Anna, pengasuh panti asuhan, serta tugas-tugas lainnya—Sr. Yolenta dengan tulus menjawab bahwa ia merasa sangat bahagia. Baginya, kebahagiaan sejati adalah melihat anak-anak asuhnya kelak mampu menjadi diri sendiri, bertanggung jawab, dan tidak bergantung pada orang lain dalam menjalani hidup.
Sr. Yolenta berharap anak-anak panti dapat tumbuh menjadi pribadi yang jujur, berkarakter baik, dan berguna bagi diri sendiri serta sesama, sekaligus memuliakan Tuhan dalam hidupnya. Menurutnya, kepintaran saja tidak cukup jika tidak digunakan untuk kebaikan bersama.
Di akhir perjumpaan, disampaikan pula ajakan kepada masyarakat dan lembaga yang tergerak hatinya untuk turut mendukung Panti Asuhan Santa Maria SCMM Waikabubak. Banyak orang memiliki kelebihan, termasuk materi, yang dapat menjadi berkat bagi anak-anak panti apabila disertai panggilan nurani untuk bermurah hati.
Proiciat kepada Sr. Yolenta, Sr. Sisilia, dan Ibu Marga atas dedikasi dan pengabdian tulus mereka dalam menyiapkan masa depan yang lebih pasti bagi anak-anak Panti Asuhan Santa Maria Waikabubak.












