PASOLAPOS.COM,KODI — Universitas Katolik (Unika) Weetebula melaksanakan kegiatan Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat (KOSABANGSA) sebagai langkah nyata dalam percepatan penurunan angka stunting. Program ini mengusung pendekatan Model Integrasi Sirkular Ayam Kampung dan Jagung Lokal untuk Akselerasi Penurunan Stunting Menuju Kandaghu Tana Desa Mandiri Pangan.
Kegiatan ini melibatkan sinergi kuat antara dunia akademik, pemerintah, dan masyarakat setempat. Tim Pengusul dari Unika Weetebula dipimpin oleh Rm. Dr. Mikael Sene, S.Fil., M.Pd. selaku Ketua Pengusul, bersama anggota Yulius Keremata Lede, M.Pd., dan Yustina Sriyutun Saghu, S.P., M.P., serta melibatkan 10 mahasiswa dari Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik dan Prodi Agroteknologi.
Selain itu, program ini turut didampingi oleh tim ahli dari Politeknik Pertanian Negeri Kupang yang diketuai oleh Prof. Catootjie Lusje Nalle, S.Pt., M.Agr., Ph.D., beserta anggota Prof. Dr. Ir. Rupa Matheus, M.Si., dan Jemseng C. Abineno, STP., M.Sc.
Analisis Situasi dan Permasalahan Mitra Sasaran
Stunting dan kemiskinan masih menjadi tantangan utama pembangunan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Berdasarkan data Survey Status Gizi Indonesia (SSGI), NTT menempati posisi tertinggi prevalensi stunting nasional dengan angka mencapai 37,9%, sementara Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) mencatatkan angka sekitar 32%.
Di Kecamatan Kodi Utara, khususnya Desa Kandaghu Tana yang berpenduduk 4.021 jiwa, terdapat 57 anak balita mengalami stunting yang tersebar di seluruh wilayah desa. Berdasarkan data, permasalahan di desa ini meliputi tiga aspek utama:
* Kemiskinan Struktural: Angka kemiskinan makro SBD mencapai 25,66%. Pertanian lahan kering tradisional tanpa mekanisasi membuat Kelompok Tani “Gerak Sama” hanya mampu menghasilkan jagung subsisten sebesar 2,4 ton per hektar.
* Krisis Gizi Kronis (Stunting): Tingginya angka stunting diperparah oleh sistem peternakan ayam liar yang membuat produktivitas daging dan telur rendah, serta fenomena sosial “Ibu Merantau” di mana pengasuhan anak terpaksa diserahkan kepada keluarga pengganti atau lansia dengan keterbatasan literasi gizi.
* Keterbatasan Pemanfaatan Potensi Lokal: Komoditas jagung selama ini hanya dijual mentah, dan pemanfaatan sumber protein hewani belum optimal bagi keluarga sasaran.
Sentuhan Teknologi dan Kelompok Sasaran
Melalui program Kosabangsa, perguruan tinggi menghadirkan hilirisasi hasil riset melalui Model Integrasi Sirkular Ayam Kampung dan Jagung Lokal. Program ini memadukan teknologi peternakan, budidaya jagung, pengolahan limbah, teknologi pangan, serta edukasi kesehatan masyarakat.
Adapun kelompok sasaran utama dari kegiatan ini meliputi:
* 26 orang anggota Kelompok Tani “Gerak Sama”
* 20 orang ibu-ibu PKK Desa Kandaghu Tana
Tahapan Pelaksanaan Kegiatan
Pelaksanaan program ini telah melalui beberapa tahap penting yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat:
* Sosialisasi dan Koordinasi
* Tanggal: 10 Oktober 2026
* Tempat: Ruang SDK Kandaghu Tana
* Pelaksanaan Kegiatan Tahap I
* Tanggal: 15–16 Oktober 2026
* Rangkaian Kegiatan:
* Pelatihan pembuatan ransum ayam berbahan baku daun kelor.
* Pelatihan pembuatan pakan ayam petelur dan pakan ayam kampung.
* Pelatihan pembuatan probiotik herbal pencegah penyakit ayam.
* Pelatihan pembuatan telur asin dan pupuk bokasi.
* Pelatihan pembuatan deplot jagung dengan model double track.
* Pembangunan kandang ayam semi-intensif berbasis biosekuriti.
* Penyerahan 9 jenis mesin pendukung produksi.
* Penyuluhan pola asuh dan edukasi gizi (Parenting for Stunting).
Melalui rangkaian kegiatan ini, diharapkan Desa Kandaghu Tana mampu mengoptimalkan potensi sumber daya lokal secara mandiri, meningkatkan asupan protein hewani keluarga, serta mewujudkan visi sebagai Desa Mandiri Pangan yang bebas dari stunting.
Redaksi: Program Kosabangsa Kerjasama dengan Media Pasolapos dan Gongsumba.

