Oleh Agustinus B.Wuwur
Kepala Biro Pasolapos Sumba Barat/Ketua KOMSOS
Paroki Santo Petrus dan Paulus Waikabubak.
Waikabubak===Minggu (25/10/2026) Pater Robert Ramone,CSsR memimpin perayaan ekaristi di Stasi Santo Agustinus Lapale,Paroki Santo Petrus dan Paulus Waikabubak. Perayaan ekaristi dalam rangka Hari Ulang Tahun ke 29 stasi dengan tema “Aku mengasihi Engkau,ya Allahku”. Perayaan ekaristi itu dihadiri umat stasi,umat lingkungan partner Lingkungan Santo Blasius Gollu Wola,umat Lingkungan Santa Brigita,dan umat dari lingkungan lainnya;serta orang tua dari anak-anak yang menerima komuni pertama,dan yang dibaptis. (12 orang komuni pertama ,dan 1 orang dibaptis). Organis Saudari Erin Momteiro,Pemazmur Ibu Ety Kaha,dan lektor Saudara Paskalis Jawu Tema.
Stasi Santo Agustinus Lapale terdiri dari Basis 1 Santo Yosef Lapale, Basis 2 Santo Paulus Puupedi,dan Basis 3 Santa Valentina Weemananga. Pater Robert dalam kotbahnya menyampaikan tentang hukum cinta kasih : yang berkaitan dengan inti pesan Yesus yang menegaskan mengenai mengasihi Tuhan dengan segenap hati,jiwa,dan akal budi;serta mengasihi sesama seperti diri sendiri.
Pater Robert mengatakan kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama bukanlah dua hal yang terpisah,melainkan satu kesatuan yang utuh. Lebih lanjut Pater Robert menjelaskan bahwa kasih dalam iman Katolik adalah suatu komitmen,menuntut ketaatan kepada Tuhan serta kerelaan untuk menjadi berkat dan teladan bagi keluarga,lingkungan tempat tinggal. Cinta itu pun harus dibarengi dengan saling memaafkan di dalam keluarga, juga di mana pun kita berada;tidak terbatas tetapi luas baik itu berkaitan dengan suku, bahkan kasih itu harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari dengan orang yang berbeda agama dengan kita.
Berkaitan dengan perjalanan panjang Stasi Santo Agustinus Lapale yang dirintis melalui kunjungan dan doa rosario yang diterima oleh simpatisan yang kemudian terpanggil menjadi Katolik,hal itu tidak mudah. Ada orang yang awalnya tidak mengerti tentang karya pewartaan Gereja Katolik di stasi ini, toh akhirnya memahami keberadaan Gereja Katolik di tempat ini. Kisahnya panjang mengenai berbagai kendala yang kita hadapi diawal merintis jalan terbentuknya stasi ini,ungkap Pater Robert mengenang ia membaptis 40 anak menjadi Katolik di bawah tenda biru di pelataran Lapale 29 tahun silam,ketika itu sebagai Pastor Paroki Santo Petrus dan Paulus Waikabubak, dengan pastor rekannya Pater Silvester Nusa, CSsR.
Ketua Stasi Santo Agustinus Lapale, Ibu Lusia Louru Peda, ketika menyampaikan sapaan bercerita tentang dinamika perjalanan merintis terbentuknya Stasi Santo Agustinus Lapale tidak mudah memang. Ada dinamika yang dihadapi dalam menata kehidupan umat dalam kesadaran beriman kepada Tuhan, terutama dalam kehidupan menggeraja. Namun tantangan paling berat adalah pada awal membentuk stasi.
Penulis sebagai salah seorang guru agama yang berjuang bersama teman-teman: Petrus Gaina,John Ghabe,F.X.Sutrisno,Marsel Gela Ngongu; anak Valentina Roswita Clyde,istri penulis Margaretha, Agustinus Riada Yagi, Bapak Andreas Ngedo Tibi, Bapak Sobu Duka/Ama Bela, Bapak Jawu Palla (alm), Rato Ama Magi, dan peran penting beberapa orang lain yang belum sempat saya catatkan namanya di sini; telah sangat berjasa dan punya andil dan perjuangan yang sama demi berdirinya gereja Stasi Santo Agustinus Lapale.
Patut saya sebutkan Ibu Ester dan Bapak Blasius Bally punya andil dalam perjuangan merintis jalan menuju terbentuknya Stasi Lapale,juga Bapak Aloysius Seran, Bapak Dominikus B.Doru (alm). Kisah awal ketika Bapak Blasius Bally sebagai Ketua Lingkungan Weekarou, beliau dan ibu Ester bersama kami umat mengunjungi simpatisan di Weekarou dan sekitarnya. Terkenang nama Ama Loru dan keluarga sebagai keluarga Katolik di Weekarou. Dari perjuangan bersama itu maka terbentuklah Stasi Santo Alfonsus Weekarou. Dan, ketika Romo Marcel P. Lamunde sebagai Pastor Paroki Santo Petrus dan Paulus Waikabubak, Stasi Santo Alfonsus Weekarou dibubui nama Satsi Santo Alfonsus Gollu Dewa (kandang jiwa) dan itu berkaitan dengan adanya makam Katolik di tempat itu.
Ketika umat di Weekarou mandiri, dan atas informasi dari Ibu Ester, yang ketika itu sebagai guru di SD Negeri Lapale bahwa di Pusamala/Lelekabola ada umat Katolik bernama Bapak Petrus/Ama Leba,maka berinisiatiflah kami bersama mengadakan kunjungan ke sana berkali-kali : katekese,rosario,pemutaran slide. Pernah berkunjung ke sama Romo John Kotasando,Romo Yosef Dowa, Pak Har jaksa Katolik ketika itu bertugas di Kejaksaaan Negeri Waikabubak.
Atas prakarsa penulis sendiri sebagai guru agama ketika itu, mengadakan kunjungan tetap setiap Minggu ke Pusamala/Lelekabola untuk pembinaan Temu Minggu dan ibadat. Pada suatu hari Minggu ketika pulang dari Pusamala/Lelekabola; penulis menjumpai Bapak Sobu Duka/Ama Bela di tepi jalan raya. Perkenalan awal dilanjutkan dengan kesepakatan pembinaan Temu Minggu di rumahnya di Lapale. Dari Temu Minggu ke tenda biru pada 29 tahun yang lampau : 26 Oktober 1997 itulah Pater Robert Ramone,CSsR membaptis 40 anak marapu menjadi Katolik.
Patut dikenang Benyamin (alm) anak dari Bapak Petrus/Ama Leba sangat berjasa. Benyamin tekun menemani penulis kunjungan ke Tayubuk dan ada sejumlah anak yang telah dibaptis. Sebuah gereja darurat telah diatapi seng, namun karena terlambat diatap akhirnya roboh. Bisa karena angin,bisa ada faktor lain. Sebidang tanah yang dibeli gereja untuk bangunan gereja itu pun kini raib. Umat Katolik yang ada di situ pun tak tahu entah ke mana mereka sekarang.
Patut kita berterimakasih kepada 3 tokoh penting : Rato Ama Magi, Bapak Sobu Duka/Ama Bela, Bapak Jawu Palla (Ama Leda alm) ketiganya adalah orang yang berada di garis depan mempertahankan keberadaan gereja Katolik di Lapale. Proficiat umat Stasi Anto Agustinus Lapale. Terimakasih Pater Robert Ramone,CSsR, terimakasih Pater Silvester Nusa, CSsR. Terimakasih : Mama Jovan, Ibu Mery Nalle,Ibu Ela, Ibu Novi,Pak Yohan atas dedikasinya untuk gereja. ***





