Menyoroti Ketegangan Antara Para Pedagang/penjual Bensin Eceran (“tukang tap”) dengan Pernyataan Pihak Camat Kota Tambolaka.Mesti Pelaku”TAP BENSIN”Harus Ikut Aturan,Jangan Naikan Harga Sepihak.

Menyoroti Ketegangan Antara Para Pedagang/penjual Bensin Eceran (“tukang tap”) dengan Pernyataan Pihak Camat Kota Tambolaka.Mesti Pelaku”TAP BENSIN”Harus Ikut Aturan,Jangan Naikan Harga Sepihak.

PASOLAPOS.CIM,TAMBOLAKA==Menyoroti Ketegangan Antara Para Pedagang/penjual Bensin Eceran (“tukang tap”) dengan Kebijakan Pihak Birokrasi Kecamatan Kota Tambolaka,Dominikus Moda yang disampaikan dihadapan para pelaku tap bensin.Ketegangan sosial di tingkat akar rumput menyusul instruksi kontroversial dari pihak kecamatan setempat yang mendesak para pedagang bensin eceran—yang populer disebut “tukang tap”—untuk segera menutup usaha dan beralih mencari profesi lain.

Pernyataan tersebut langsung memantik gelombang protes keras. Para pedagang menilai anjuran itu sebagai bentuk pengabaian camat terhadap perut rakyat kecil, lantaran dilontarkan tanpa dibarengi skenario langkah konkret maupun jaminan penyediaan lapangan pekerjaan baru.
“Jangan Asal Melarang, Perut Kami Butuh Makan!”
Beberapa perwakilan pedagang bensin eceran yang namanya tidak ingin dimediahkan meluapkan kemarahan mereka atas sikap arogan pihak camat yang terkesan lepas tangan terhadap nasib ekonomi warganya. Menurutnya, melarang tanpa memberikan solusi sama dengan menjerumuskan ratusan kepala keluarga ke jurang kemiskinan ekstrem.

“Enak saja menyuruh kami cari pekerjaan lain! Kalau sekadar menyuruh, anak kecil juga bisa. Pertanyaannya: di mana lapangan kerjanya? Apakah Pak Camat mau memberi kami makan setiap hari? Jangan berlindung di balik aturan tanpa melihat realitas bahwa angka pengangguran di kota ini sudah tinggi,” tegas beberapa tap bensin yang dihubungi dengan nada tinggi saat ditemui di lokasi.

Kritik tajam serupa juga dilontarkan dalam bahasa ibu,bahasa daerah,dari ibu-ibu janda yang menggantungkan hidupnya dari berjualan bensin eceran demi hidup dan menyekolahkan anak- anaknya. Ia menyebut kebijakan tersebut sebagai bentuk pemiskinan terstruktur terhadap pedagang kecil.
“Kami ini bukan penjahat, kami mencari rezeki halal demi menyambung hidup. Kalau tempat kami ditertibkan atau dilarang total, sediakan dulu solusinya. Berikan pelatihan, berikan modal usaha pengganti, atau buka lapangan kerja bagi kami ini. Jangan asal lempar pernyataan yang membuat kami stres,” keluhnya dengan mata berkaca-kaca.

Pemerintah Kota Dituntut Hadirkan Skenario Konkret kesiapan lapangan kerja.
langkah pihak kecamatan atau aparat yang gemar melontarkan imbauan alih profesi mencerminkan lemahnya leadership dalam menangani persoalan sosial-ekonomi secara komprehensif. Seharusnya, sebelum mengeluarkan ultimatum penertiban atau imbauan alih profesi,merancang blue print atau skenario transisi ekonomi yang jelas.

Beberapa poin tuntutan keras yang disuarakan para “tukang tap” bensin kepada pihak kecamatan meliputi:

A.Meminta para pejabat menghentikan retorika suruh “cari kerja lain” yang terkesan meremehkan sektor kehidupan rakyat.

B.Penyediaan Lapangan Kerja Nyata: Pemerintah wajib memfasilitasi program padat karya atau bursa kerja khusus bagi warga terdampak penertiban.

C.Harus ada pelatihan Keterampilan (Upskilling): Jika memang sektor eceran ini ditata atau dibatasi, pemerintah harus memberikan modal dan pelatihan keterampilan kerja yang bersertifikat secara gratis.

Dari hasil pantauan Media sejak tanggal 23 s/d 27 Oktober 2026 ada banyak kelakuan tidak terpuji bagi para pelaku tap bensin dan solar yang selalu menggunakan kesempatan untuk menaikan harga BBM bersubsidi dengan caranya sendiri menentukan harga tinggi yang mencekik leher bagi sesama warga miskin yang sangat bergantung pada BBM bersubsidi, kekecewaan muncul dari para ASN,Tenaga Kontrak dan Warga Lain yang hidupnya sederhana yang pas-pasan.salah satu yang media ketemu langsung(27/10/2026)di pagi hari jam 6 pagi bernama Ama Jeri menyampaikan kecewa berat atas harga yang dinaikan oleh tap bensin, bagaimana Bpk Wartawan menuturkan harga sampai 50-60 ribu perbotol Aqua besar itupun tidak penuh,terpaksa saya hanya bawa uang 20 ribu,dengan nada kecewa terhadap penjualan eceran ini ada banyak sekali kesempatan yang digunakan oleh para pelaku yang “tap bensin”masa naikan harga BBM seenaknya mau mereka,kita tidak melarang mereka tap BBM bersubsidi untuk kehidupan tapi janganlah pergunakan kesempatan,biar untung yang normal,kita mengerti demi hidup tapi harga melonjak sama saja sesama orang kecil juga yang beli bensin di eceran.

Hingga berita ini diturunkan, pihak pak camat kota tambolaka sudah memberikan keterangan terbuka lewat siaran langsung saat berada di area pom bensin di Pertamina Taworara,belum memberikan keterangan resmi lanjutan terkait desakan warga agar segera memaparkan skenario konkret penyediaan lapangan pekerjaan pengganti bagi para pedagang kecil tersebut.

Redaksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *