Berita Terbaru
Mengenang Stefanus Malo Ngongo, Sosok Pemimpin Umat yang Mengabdi Sepenuh Hati untuk Gereja Acong, Penyanyi Tunanetra: Melihat dengan Hati, Bermusik dengan Rasa Kerusakan Pembangunan Alun-Alun Tambolaka Jadi Temuan Komisi 2 DPRD SBD, Kadis PU Siap Perbaiki. Gedung Koperasi Megah Pasar Lama Radamata: Antara Kemubaziran Anggaran dan Solusi Alih Fungsi Kehadiran Ibu Bupati SBD, bersama jajaran (OPD)lokusnya monitoring dan evaluasi stunting di posyandu Waipahanduk desa Waimaringi Kecamatan Kodibalagha. Pasolapos.Com==Acara yang berlangsung pada jumat 24/07/2026 di desa waimaringi dalam rangka melakukan stunting di wilayah kecamatan kodi balaghar serta penurunan angka stunting di desa waimaringi kecamatan kodi balaghar ” Camat Kodi Balaghar LODOWIK ALALO bersama bupati Ratu Wulla Talu,ST Beserta jajaran dan masyarakat tujuan memantau keadaan (STUNTING) “Kedatangan bupati Ratu Wulla Talu,ST, ini bertujuan memantau langsung penanganan Stunting dan menyampaikan beberapa persoalan tentang jalan insfrastruktur dari waimangura hingga kodi kahale akan saya hopmiks” “Dalam kunjungan tersebut , bupati juga menyampaikan dalam rencana pembangunan jalan yang akan menghubungkan dari waimangura hingga kodi kahale, ujar bupati di saat berdialog di tengah masyarakat ” “Selain insfrastruktur , fokus utama kita adalah berupaya percepat penurunan Stunting saya minta agar bupati kecamatan kodi balaghar bersama para kepala desa mengoptimalkan kegiatan stunting ” “Salah satu strategisnya, adalah memanfaatkan momentum perkumpulan warga di saat beribadah, camat juga harus bekerja sama dengan para kepala desa di seluruh wilayah seluruh balaghar adakan kegiatan stunting
Figur  

Acong, Penyanyi Tunanetra: Melihat dengan Hati, Bermusik dengan Rasa

Arnoldus Yosep Pati Kobun.

PASOLAPOS.COM | Waikabubak – Penyanyi tunanetra Arnoldus Yosep Pati Kobun atau yang lebih dikenal dengan nama panggung Acong tampil memukau dalam rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-87 Paroki Santo Petrus dan Paulus Waikabubak, Selasa (21/7/2026). Penampilannya di panggung utama pelataran SD-SMP Katolik Waikabubak mendapat sambutan hangat dari umat dan masyarakat yang hadir dalam perayaan bertema “Meneguhkan Iman, Mempererat Persaudaraan, Menghidupkan Kembali Pesta Paroki.”

Sebelum tampil, Senin (20/7/2026), Pasolapos berkesempatan mewawancarai Acong di kediaman Bapak Tobias K. Kobun di Waikabubak. Penyanyi sekaligus pemain keyboard asal Puor, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur ini mengisahkan perjalanan hidupnya yang penuh perjuangan hingga dikenal sebagai musisi profesional.

Acong, yang memiliki nama lengkap Arnoldus Yosep Pati Kobun, mengaku mulai menyukai dunia musik sejak duduk di bangku kelas III SD. Bakat tersebut kemudian diasah secara serius ketika menempuh pendidikan di SMALB Negeri Denpasar, Bali, pada tahun 2011 di bawah bimbingan guru musik serta melalui proses belajar secara mandiri.

Ia menceritakan bahwa kebutaan yang dialaminya bermula saat berusia satu tahun. Ketika itu wajahnya terkena tumpahan kopi panas saat berada di bawah kolong meja. Meski sempat menjalani pengobatan tradisional, penglihatannya tidak dapat diselamatkan. Acong kemudian bersekolah di SDLB Negeri Weri, Larantuka, Flores Timur. Di sekolah tersebut ia mulai mengenal alat musik keyboard melalui bimbingan guru musik, Theodorus Ama Tua Keraf. Awalnya ia bercita-cita menjadi pemain drum, namun akhirnya memilih menekuni keyboard.

Saat menempuh pendidikan di SMALB Negeri Denpasar, tepatnya ketika liburan ke Lewoleba, Kabupaten Lembata, pamannya menyarankan agar ia fokus menjadi pemain keyboard dibanding melanjutkan kuliah. Saran itu diterima Acong, dan sejak saat itu ia mulai serius membangun karier sebagai musisi. Ia bahkan pernah mengikuti seleksi musik di Bandung, meski belum berhasil lolos.

Mengenai penghasilannya, Acong menjelaskan bahwa pada awal karier sekitar tahun 2011 ia menerima honor antara Rp500.000 hingga Rp800.000 setiap kali tampil. Kini penghasilannya meningkat menjadi sekitar Rp3.000.000 hingga Rp4.000.000, bahkan bisa mencapai Rp5.000.000 hingga Rp7.000.000 apabila tampil di luar daerah. Selain itu, ia juga kerap menerima tip dari para penonton.

Acong sering diundang mengisi berbagai acara seperti pesta pernikahan, syukuran, ulang tahun, perayaan Hari Kemerdekaan, hingga kegiatan organisasi seperti HUT PWI. Ia juga pernah menerima hadiah sebuah keyboard dari Pemerintah Kabupaten Flores Timur pada 3 Desember 2017, bertepatan dengan peringatan Hari Disabilitas Internasional. Untuk pelayanan mengiringi koor di gereja, ia tidak pernah menetapkan tarif.

Menurut pria kelahiran Puor, Lembata, 8 Januari 1992 itu, keberhasilannya bukan karena rasa iba masyarakat terhadap keterbatasannya, tetapi karena kualitas permainan keyboard dan kemampuan bernyanyinya yang mampu menghibur banyak orang.

“Bukan karena keterbatasan saya, tetapi karena orang menikmati permainan keyboard dan lagu-lagu yang saya bawakan,” ungkap Acong.

Ia juga memiliki prinsip sederhana dalam bermusik.

“Diri sendiri harus terhibur dulu, baru orang lain ikut terhibur,” ujarnya.

Salah satu karya yang pernah diaransemennya adalah lagu “Kembang Kota Karang” ciptaan Alo Raja Tegaona dari Kecamatan Nagawutun, Kabupaten Lembata. Lagu tersebut berhasil memperoleh sekitar 2,1 juta penayangan di YouTube, menjadi salah satu pencapaian yang membanggakan dalam perjalanan kariernya.

Dalam kunjungannya ke Waikabubak, Acong didampingi kekasihnya, Tania Edan, asal Kampung Leuburi, Kecamatan Buyasuri, Kabupaten Lembata. Tania merupakan lulusan D3 Keperawatan dan pernah menjadi guru rimba di Jayapura selama satu setengah tahun.

Saat ditanya mengapa memilih mendampingi Acong, Tania menjawab singkat namun penuh makna.

“Acong punya kelebihan, dan saya bisa menjadi mata untuk Acong,” katanya.

Pada malam pementasan, Acong memperlihatkan kepiawaiannya memainkan keyboard sambil menyanyikan sejumlah lagu yang menghibur para penonton. Tania juga tampil membawakan beberapa lagu secara solo maupun duet bersama Acong, sehingga semakin menyemarakkan suasana perayaan.

Acong mengaku bersyukur karena selama perjalanan kariernya ia selalu bertemu dengan banyak orang baik. Ia menyampaikan terima kasih kepada Pastor Paroki Rm. Konstantinus Nggajo yang telah mengundangnya tampil, kepada keluarga Bapak Tobias K. Kobun yang memberikan tempat tinggal selama berada di Waikabubak, kepada panitia Orang Muda Katolik (OMK), serta seluruh masyarakat yang memberikan dukungan dan apresiasi.

Di akhir wawancara, Acong juga menyampaikan dua harapan. Pertama, ia berharap produsen alat musik dapat melengkapi fitur keyboard yang lebih ramah bagi penyandang tunanetra. Kedua, ia mengajak masyarakat agar tidak memandang hubungan hanya dari sisi materi.

“Jangan menuntut terlalu banyak dari perempuan ataupun laki-laki. Bagi saya, pasangan bukan hanya soal pekerjaan tetap, tetapi juga memberikan dukungan dan kekuatan spiritual dalam kehidupan,” tuturnya.

Kisah Acong menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk berkarya. Dengan semangat, ketekunan, dan rasa syukur, ia mampu menginspirasi banyak orang melalui musik yang dimainkan dengan hati.

(Redaksi/Pasolapos)

Tinggalkan Balasan