PENDIDIKAN DALAM BELENGGU HAK ASASI MANUSIA

PASOLAPOS.COM

 

Dalam rangka HUT PGRI Ke-80

 

Di halaman sekolah yang seharusnya tumbuh merdeka,

terdengar bisik pelajar yang kehilangan suara.

Pendidikan—yang mestinya cahaya

kadang meredup oleh tangan-tangan

yang lupa bahwa setiap anak

datang dengan hak untuk menjadi manusia.

 

Di balik tembok kelas yang rapuh oleh aturan,

ada mimpi yang harusnya berlari,

namun tertahan oleh ketakutan

yang bukan bagian dari pembelajaran.

Ketika hak bertanya dibatasi,

ketika hak merasa dipadamkan,

maka di situlah pendidikan terperangkap

dalam belenggu yang tidak terlihat.

 

Guru penjaga akal budi bangsa

berdiri di persimpangan antara nurani dan kuasa.

Mereka tahu, pendidikan sejati

bukan sekadar tugas,

melainkan perjuangan menjaga martabat manusia.

Namun terkadang, suara mereka ikut dibungkam

oleh sistem yang lupa bahwa guru juga

memiliki hak untuk dihargai, dilindungi, dan didengar.

 

Di usia PGRI yang kedelapan puluh,

kita bertanya:

Apakah arti pendidikan

jika hak asasi masih tersudut di sudut kelas?

Apakah arti kemerdekaan belajar

jika yang belajar tak benar-benar merdeka?

 

Mari buka kembali pintu-pintu yang terkunci,

lepaskan belenggu yang membatasi nurani.

Biarkan sekolah menjadi ruang aman,

tempat hak asasi tumbuh bersama akal budi.

 

Sebab pendidikan tanpa penghormatan

adalah gedung tanpa pondasi.

Dan bangsa tanpa kemanusiaan

adalah masa depan tanpa cahaya.

Tinggalkan Balasan