Religi  

Landaskan Kasih,Umat dan Imam Paroki St.Petrus & Paulus Waikabubak Jadi Contoh Membangun Gereja

Gereja St Petrus dan Paulus Waikabubak diberkati yang mulia Bapak Uskup Weetebula, Edmund Woga,CSsR .Sabtu,29 Juni 2024.

Pasolapos bertanya kepada Bpk. pensiunan guru di salah satu SDK di   Desa Wajo, Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo itu, apa pesan bapak  untuk romo , ia mengatakan “ : Ikuti apa yang dicanangkan pada motto tahbisan romo  , ikuti jalan yang ditunjuk oleh Yesus. Mama Rosa Duna menambahkan : “ Yesus datang  ke dunia melalui Bunda Maria, maka romo harus berjalan bersama Keluarga Kudus Nazareth dan memperteguh iman semua keluarga inti dan umat di Paroki St. Petrus dan Paulus Waikabubak.

 

 

Lalu kalau kita menelusuri perjuangan panjang dan melelahkan bagaimana menata Paroki St. Petrus dan Paulus Waikabubak baik dari segi karya pastoral maupun pembangunan fisik gereja-gereja baik di stasi maupun di paroki, penulis mengenal sosok para pastor Paroki St. Petrus dan Paulus Waikabubak, bagaimana  karya pastoral yang diemban oleh mereka demi kemajuan umat di  paroki.

 

 

Pater Hans Kleideiter, CSsR, Rm. Crispinus V. Riberu, Pr, P. Cypri M. Leyn, CSsR (penjabat pastor paroki), Rm. Marcel P. Lamunde,Pr, P. Robert Ramone , CSsR, Rm. Kristianus B. Reda, Pr, dan Rm. Konstantinus Nggajo, Pr (pastor paroki yang sekarang) penulis kenal adalah sosok-sosok tangguh dengan karya pastoral yang mengumat dan memasyarakat membangun dan menata perkembangan umat baik dari segi iman/ kehidupan rohani maupun pembangunan fisik dengan kadar keberhasilan masing-masing pada masa kepemimpinan mereka ; dan dengan tantangan yang beragam pula.

 

 

Penulis ingat pembangunan pastoran dan aula atas prakarsa Pastor Paroki P. Robert Ramone, CSsR, dengan pastor rekan P. Silvester Nusa, CSsR serta dukungan umat bangun pastoran , aula. Pagar keliling dikerjakan umat secara swadaya. Rekoleksi dari stasi ke stasi adalah kegiatan tetap yang diprakarsasi P. Robert. Dan yang  saya tidak  lupa ialah ketika rekoleksi P. Robert selalu menekankan guru agama/pembina umat (PUGA) agar kuat dalam karya pastoral perlu “dicas” ibarat aki, melalui rekoleksi bulanan   perlu mendapat penyegaran rohani/iman, sebagai daya dorong mengabdi  tanpa pamrih dan  tidak lesu.

 

 

Hal menarik lain yaitu ketika rekoleksi ada arisan. Selain itu dengan rekoleksi para PUGA berpindah dari satu stasi ke stasi lain dapat menikmati udara segar pegunungan, dan sesekali piknik rohani ke pantai  selatan, sembari berharap mendapat arisan. Penulis sebagai umat paroki, dan pernah menjabat sebagai Ketua Seksi Pendidikan Paroki tidak bisa mencatatkan secara rinci karya pastoral  masing-masing  pastor paroki. Secara monumental mungkin lebih mudah diingat, seperti Rm. Marcel P. Lamunde, Pr ketika sebagai pastor paroki memprakarsai pembangunan panggung dengan atap khas Sumba dalam rangka persiapan   pertemuan para uskup Nusra , dan kini areanya menjadi  lapangan “Stella Maris” SMP Katolik Waikabubak  yang menyatu dengan sebagian halaman SDK Waikabubak III, menjadi salah satu tempat kegiatan  berkaitan dengan pentahbisan gereja, bisa dikenang oleh umat dan sesama yang lain.

Tinggalkan Balasan