Dikatakan Dr. Ahmad Atang, munculnya tiga nama tersebut telah memicu hadirnya lembaga survey untuk mengukur tingkat popularitas dan elektabilitas masing-masing figur. “Maka figur Melki Laka Lena masih relatif unggul dibandingkan Ansy Lema dan Simon Petrus Kamlasi,” tegasnya.
Kendati demikian, posisi Melki Laka Lena dan Ansy Lema tidak terpaut jauh. Itu pasalnya, dapat dikatakan bahwa panggung politik pilkada NTT hari-hari ini ke depan masih menjadi milik Melki Laka Lena dan bisa juga Ansy Lema.
“Sungguhpun begitu, survey ini masih membidik figur calon gubernur. Situasi ini sangat mungkin akan berubah jika masing-masing sudah memiliki pasangan calon dengan wakil gubenur. Calon wakil gubernur ikut menentukan posisi hasil survey. Oleh karena itu, boleh jadi saat ini Melki Laka Lena masih tertinggi, namun tidak ada yang menjamin jika posisi akan bertahan jika sudah memiliki wakil. Semua masih bersifat tentative,” sebutnya.
Menurut dia, pilihan wakil akan mempengaruhi persepsi publik terhadap pasangan calon. “Popularitas dan elektabilitas figur cagub bisa anjlok jika salah memilih. Dan sebaliknya, pilihan wakil juga dapat menaikan popularitas dan elektabilitas pasangan calon. Maka kita akan saksikan ke depan dinamika ini dengan hadirnya calon wakil,” jelas Ahmad Atang.
Cawagub Untuk Melki Laka Lena Harus Pertimbangkan Basis Politik dan Sosiologis
Sebelumnya, Dr. Ahmad Atang, memberi pencerahan menarik soal siapa calon wagub, yang akan disandingkan dengan Cagub Golkar Emanuel Melkiades Laka Lena. Dia berpendapat, calon wagub yang layak untuk Melki harus benar-benar mempertimbangkan basis politik dan basis sosiologis.
“Dari tiga nama yang beredar dari Koalisi Indonesia Maju (KIM), maka partai koalisi harus bisa memastikan satu diantara tiga nama itu untuk mendampingi Melki Laka Lena, dengan mempertimbangkan dua hal, yakni basis politik dan sosiologis karena calon wakil harus mampu mendorong profit elektoral bagi paslon ini,” tegas Ahmad Atang, Minggu (7/7/2024).












