PASOLAPOS.COM – Malang, 2 Mei 2025 – Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) menggelar sebuah acara reflektif yang menghadirkan Presiden Mahasiswa UNITRI, Esron Tura, sebagai pembicara utama. Kegiatan ini berlangsung khidmat dan penuh makna, dihadiri oleh civitas akademika, mahasiswa, serta dosen FIP UNITRI.
Dalam sambutannya, Esron Tura menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar instrumen formal, melainkan jembatan penting menuju masa depan. Menurutnya, pendidikan memiliki kekuatan untuk membebaskan manusia dari ketertinggalan, ketidakadilan, dan kebodohan.
“Pendidikan adalah jembatan masa depan. Melaluinya, kita membangun peradaban dan menciptakan keadilan sosial. Namun, kita harus sadar bahwa hari ini pendidikan sedang menghadapi tantangan besar,” ujar Esron.
Ia menyoroti bahwa tantangan yang dihadapi pendidikan di era modern bukan lagi penjajahan fisik, melainkan penjajahan sistemik yang muncul akibat pengaruh kapitalisme dan globalisasi. Esron mengingatkan bahwa sistem pendidikan saat ini sering kali terkooptasi oleh kepentingan pasar global dan kekuatan modal, sehingga menjauh dari nilai-nilai pembebasan dan keadilan sosial.
“Jika di masa lalu bangsa ini dijajah oleh kekuatan militer, maka hari ini kita dijajah secara halus melalui sistem. Pendidikan yang seharusnya menjadi ruang pembebasan justru kerap menjadi alat kekuasaan dan kepentingan pasar. Inilah bentuk penjajahan gaya baru yang harus kita sadari dan lawan bersama,” tegasnya.
Esron juga mengajak mahasiswa untuk tidak bersikap pasif dalam menghadapi persoalan pendidikan. Ia mendorong mahasiswa agar menjadi agen perubahan, yang aktif, berpikir kritis, serta berani mempertanyakan sistem yang dianggap menindas.
“Mahasiswa tidak boleh hanya menjadi penonton dalam panggung kebijakan. Kita adalah pengawal nurani bangsa. Kampus bukan sekadar tempat belajar teori, tetapi juga ruang untuk membangun kesadaran kolektif dan keberanian moral,” jelasnya.
Selain itu, Esron menyoroti pentingnya pengawalan terhadap kebijakan pemerintah, terutama dalam implementasi program Wajib Belajar 13 Tahun. Ia menekankan bahwa akses pendidikan yang setara dan menyeluruh adalah tanggung jawab bersama.
“Mari kita pastikan bahwa program Wajib Belajar 13 Tahun benar-benar menjangkau seluruh anak bangsa, tanpa terkecuali. Kita harus mengawal setiap kebijakan pemerintah agar tetap berpijak pada keadilan dan keberpihakan terhadap rakyat kecil,” tuturnya.
Menutup pidatonya, Esron menyampaikan bahwa perjuangan di bidang pendidikan belum selesai. Ia mengajak seluruh mahasiswa dan pemangku kepentingan di dunia pendidikan untuk terus menjaga semangat perubahan dan pembebasan.
“Perjuangan pendidikan bukan hanya soal bangku kuliah dan nilai akademik. Ini adalah perjuangan tentang masa depan bangsa. Generasi muda harus menjadi pelanjut obor pembebasan, karena hanya dengan pendidikan yang membebaskan kita bisa membangun Indonesia yang adil dan beradab,” pungkasnya.
Acara peringatan Hardiknas FIP UNITRI 2025 ini menjadi ruang kontemplatif yang tidak hanya mengenang jasa para tokoh pendidikan, tetapi juga menjadi panggilan moral untuk terus melanjutkan cita-cita pendidikan nasional yang inklusif, merdeka, dan berpihak pada rakyat.












