Usulan Tobias Dowa Lelu soal Tiket Pasola Dinilai Jadi Awal Kebangkitan Pariwisata SBD dan Pendorong Ekonomi Daerah

PASOLAPOS.COM || Tambolaka – Pasola merupakan festival budaya sakral khas Sumba Barat Daya, khususnya masyarakat Kodi, yang telah menjadi ikon budaya sekaligus daya tarik wisata nasional hingga mancanegara. Festival tahunan ini mempertontonkan ketangkasan para pria Sumba yang saling melempar kayu lembing sambil menunggang kuda dengan kecepatan penuh di lapangan terbuka, disaksikan ribuan penonton.

Dalam pelaksanaannya, Pasola menggunakan kuda dan lembing asli, serta membutuhkan keahlian khusus dalam berkuda dan menghindari lemparan. Atraksi ini tidak hanya sarat nilai adat dan spiritual, tetapi juga memacu adrenalin penonton yang menyaksikannya secara langsung.

Keunikan dan kekhasan Pasola inilah yang membuat masyarakat dari berbagai daerah di Nusantara hingga wisatawan mancanegara rela datang berbondong-bondong ke Sumba Barat Daya, meskipun harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit demi menyaksikan perhelatan budaya tersebut.

Berdasarkan hasil wawancara langsung awak media Pasolapos.com pada Rabu, 4 Februari 2026, anggota DPRD Kabupaten Sumba Barat Daya sekaligus Ketua DPC PKB SBD, Tobias Dowa Lelu, mendorong perlunya pembenahan serius terhadap infrastruktur pendukung di arena Pasola. Menurutnya, fasilitas seperti tribun penonton dan sarana umum lainnya harus dibangun secara layak sebagai nilai jual kenyamanan bagi penonton dan wisatawan, khususnya turis mancanegara.

“Yah, setuju saya. Dulu pernah saya sampaikan, kalau mau mendapatkan tambahan pendapatan daerah di Sumba Barat Daya, maka harus dibikinkan tribun yang bagus,” ujar Tobias, politisi senior DPRD dua periode.

Lebih lanjut, Tobias menjelaskan bahwa pembangunan dan perawatan infrastruktur tentu membutuhkan biaya. Oleh karena itu, pengenaan tarif tiket masuk, khususnya bagi penonton di tribun Pasola serta parkir kendaraan saat event berlangsung, dinilai sebagai langkah strategis dan realistis. Menurutnya, kebijakan tersebut akan memberikan nilai ekonomi nyata dari Pasola sebagai objek pariwisata.

“Dengan indahnya tribun dan menarik bagi tamu-tamu terhormat atau tamu dari luar, yah harus ada karcis,” ungkapnya.

Ia menilai, penerapan tarif tiket Pasola dapat menciptakan surplus pertumbuhan ekonomi dari sektor pariwisata. Selain meningkatkan pendapatan daerah, kebijakan ini juga berpotensi menyerap tenaga kerja, menjawab persoalan pengangguran yang selama ini masih menjadi tantangan di Kabupaten Sumba Barat Daya.

Tobias juga menyinggung geliat pembangunan hotel dan vila pariwisata yang mulai masif di SBD sebagai peluang besar yang harus diimbangi dengan pengelolaan event budaya secara profesional. Menurutnya, gagasan ini sejalan dengan visi dan misi pembangunan daerah yang dicanangkan Bupati Sumba Barat Daya, yakni membangun desa dan menata kota.

Ia menegaskan komitmennya untuk terus menggaungkan pembangunan sektor pariwisata melalui berbagai forum resmi, baik dalam rapat-rapat DPRD maupun sidang-sidang ke depan.

“Iya, saya akan sampaikan, baik di sidang-sidang resmi maupun nonformal,” tegasnya.

Meski demikian, Tobias Dowa Lelu menekankan bahwa pengenaan tarif tiket Pasola tidak boleh dilakukan secara sepihak. Ia menegaskan pentingnya musyawarah dan kesepakatan bersama masyarakat Kodi, khususnya tokoh-tokoh adat, pemerintah desa, dan pemerintah kecamatan, agar kebijakan tersebut tidak menimbulkan polemik atau persepsi negatif di tengah masyarakat.

“Tarik tiket masuk ini bisa dilakukan apabila ada hasil konsolidasi dari masyarakat Kodi, khususnya tokoh-tokoh adat, pemerintah desa, dan kecamatan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan