PASOLAPOS.COM – Toni Loter, seorang guru yang bertugas di Sekolah Dasar Negeri Balamoro, Desa Waikaninyo, Kecamatan Kodi Bangedo, dilaporkan mengalami pemukulan oleh sekelompok warga yang tinggal di sekitar Lokokaki, tepatnya di depan Seminari Sinar Buana.
Dalam keterangannya kepada Pasolapos.com, Toni Loter mengaku bahwa insiden tersebut terjadi saat ia sedang minum di depan Seminari. “Saya sedang minum dan mau pergi ke rumah depan seminari, tiba-tiba masyarakat, termasuk diduga ada oknum aparat, langsung memukul saya,” ujarnya saat ditemui di Bank NTT, Tambolaka, pada 29 Juli 2025.
Toni mengaku tidak melakukan perlawanan terhadap masyarakat sekitar lokasi tersebut. Namun ia merasa kecewa karena diduga ada juga oknum aparat yang turut serta memukul dirinya. Menyikapi laporan dari Toni Loter, tim media Pasolapos.com mencoba mengonfirmasi keterangan dari beberapa warga di sekitar Seminari Lokokaki.

Ibu Wilhelmina Leu, seorang janda pensiunan guru SMP Negeri di Jalan Waikelo, memberikan keterangan penting. Saat ditemui pada 30 Juli 2025, ia mengungkapkan bahwa Toni Loter telah tinggal bersamanya sejak kecil. “Saya yang pelihara dia dari kecil, kuliahkan juga dia. Tapi selama hidup di rumah ini, dia sering bikin onar. Bahkan dia pernah mengancam saya dengan pisau sambil kejar saya, ingin membunuh saya, Pak Wartawan,” ungkapnya dengan nada kesal.
Lebih lanjut, Ibu Wilhelmina menjelaskan bahwa Toni Loter lulus seleksi PPPK pada tahun 2022 dan ditempatkan di SD Negeri Balamoro, Kodi. Karena lokasi sekolah yang jauh, ia memberikan motor agar Toni dapat menjalankan tugasnya. Namun kenyataannya, Toni tidak menjalankan tugas sebagai guru. “Sudah lebih dari satu tahun dia tidak pernah mengajar. Pernah saya tanya, dia malah bilang, ‘walaupun saya tidak pergi mengajar, gaji tetap masuk ke rekening saya,’” ujar Ibu Wilhelmina.
Atas ulah Toni, masyarakat sekitar, termasuk aparat desa, tokoh masyarakat, dan para pemuda mulai merasa terganggu. “Wajar kalau masyarakat di sini marah dan merasa terganggu dengan sikapnya yang tidak menghargai kami. Dia juga sering memaki saya di rumah, bahkan sempat melakukan pelecehan seksual terhadap salah satu saudari dari guru di sini. Itu pernah dilaporkan ke Polres,” jelas Ibu Wilhelmina.
Melihat situasi yang semakin tidak kondusif, Ibu Wilhelmina berharap kepada Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya, khususnya kepada Ibu Bupati dan Wakil Bupati, agar Toni Loter segera dipindahkan kembali ke Kabupaten Malaka. “Kami di sini sudah sangat terganggu dengan kehadiran Toni,” pintanya.
Pernyataan Ibu Wilhelmina ini turut disaksikan oleh beberapa masyarakat sekitar. Bahkan salah satu warga menyampaikan peringatan keras, “Kalau dia masih tetap di sini dan terus membuat ulah serta meresahkan keluarga Ibu Janda dan warga di sini, maka tidak menutup kemungkinan hal-hal yang tidak diinginkan bisa terjadi akibat emosi warga.”
Redaksi: Paul












