RAJA-RAJA DI SUMBA TIDAK MEMILIKI ISTANA MEGAH…!INI ALASAN UTAMA MENGAPA DEMIKIAN…?

Oplus_131072

RAJA-RAJA DI SUMBA TIDAK MEMILIKI ISTANA MEGAH…!INI ALASAN UTAMA MENGAPA DEMIKIAN…?

Penulis:Paulus Malo Ngongo.
Pimpinan Redaksi: Pasolapos.Com,Gongsumba.Com.

Seperti halnya pada tulisan terdahulu mengenai perjalanan sejarah kerajaan di Sumba tidak seperti kerajaan di Jawa, Sumatra, Bali, atau wilayah lain di Indonesia terletak pada struktur sosial-politik asli Sumba, kepercayaan lokal, dan sejarah pembentukan gelar raja itu sendiri.

Ada beberapa alasan mendasar di baliknya:

1.Secara Tradisional, Sumba Tidak Mengenal Sistem “Kerajaan”
Sebelum kedatangan bangsa Eropa (Belanda), masyarakat asli Sumba tidak menganut sistem pemerintahan monarki atau kerajaan terpusat.

* Struktur masyarakat Sumba bersifat kultural-klan (suku) yang berbasis pada kampung adat.
* Setiap kampung dipimpin oleh pemangku adat dan bangsawan lokal (Maramba) serta pemimpin spiritual (Rato).
* Kedudukan pemimpin tidak bersifat kekuasaan absolut atas sebuah wilayah kekaisaran/kerajaan besar, melainkan kepemimpinan atas komunitas suku dan kampungnya.

2.Gelar “Raja” Adalah Hasil Konstruksi Pemerintah Kolonial Belanda
Banyak gelar raja di Sumba yang dicatat dalam sejarah politik baru muncul pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20:

* Pemerintah kolonial Belanda menerapkan politik Korte Verklaring (Plakat Pendek) untuk mengontrol daerah-daerah di Sumba.

* Belanda menunjuk atau mengukuhkan salah satu kepala suku/pemerintah setempat (Maramba) untuk menjadi “Raja” di suatu wilayah administratif (lanskap).

* Gelar tersebut difungsikan oleh Belanda untuk memudahkan penarikan pajak dan administrasi pemerintahan. Karena gelar raja ini merupakan fungsi administratif kolonial dan bukan dari sistem dinasti feudal yang berdiri ratusan tahun, tidak ada tradisi membangun istana kerajaan (palace) tersendiri.

3. Rumah Adat (Uma Kalada /Mbatangu / Uma Kamali) Adalah Pusat Kekuasaan
Meskipun tidak memiliki istana bergaya megah/Eropa, seorang Maramba (bangsawan/raja) tetap memiliki kediaman yang berfungsi sebagai pusat kepemimpinan:

* Kediaman mereka dinamakan Uma Kalada,Uma Kamali atau Uma Bokulu,Parona(Rumah Besar).

* Bentuk bangunannya tetap mengikuti arsitektur rumah adat Sumba dengan atap menara yang menjulang tinggi (Uma Mbatangu).

* Ukurannya biasanya lebih besar, menggunakan tiang-tiang kayu yang paling kokoh, serta dipenuhi ukiran simbolis dan hasil buruan/ritual adat. Rumah inilah yang menjadi pusat musyawarah adat, pengadilan lokal, dan penyimpanan pusaka.

4. Pandangan Kosmologi dan Kepercayaan Marapu
Arsitektur bangunan di Sumba sangat dipengaruhi oleh kepercayaan ajaran leluhur Marapu:

* Rumah Sumba tidak dirancang untuk memamerkan kemewahan personal sang penguasa, melainkan sebagai simbol kosmologis (penghubung antara manusia, alam, dan roh leluhur/Marapu).

* Bagian puncak atap (Uma Dana) dianggap sebagai tempat sakral bersemayamnya roh leluhur.

* Seorang raja/bangsawan Sumba mengukur prestise dan legitimasinya bukan dari kemewahan fisik istana batu, melainkan dari:

* Ketinggian atap menara rumah adatnya.

* Jumlah ternak (kuda/kerbau) yang dimiliki.

* Kemampuan menggelar pesta adat (Pesta Wulla Poddu / ritual kematian) dan besarnya batu kubur megalitik (Watu Kliko/Watu Rate) keluarga.
Raja-raja di luar Sumba (seperti Sultan di Jawa/Sumatra atau Raja di Bali) memerintah dalam sistem monarki feodal terpusat dengan pengaruh budaya Hindu-Buddha atau Islam yang memang mengenal konsep keraton/istana sebagai pusat legitimasi politik. Sementara di Sumba, kepemimpinan berakar pada sistem suku adat Marapu, sehingga kediaman raja tetap menyatu dengan struktur rumah adat kampung setempat.

Semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dalam tulisan saya terdahulu ada banyak netisen baik yang dari luar Sumba maupun dalam sumba.tukisan ini bisa membantu menjawab pertanyaan yg lalu.tulisan ini saya dapatkan refrensi dari berbagai sumber, termasuk data data dari berbagai orang tua yang mengerti tentang sejarah perjalan hidup di sumba.ikuti tulisan mengenai sejarah perjalanan Sumba di Media Gongsumba.Com dan Pasolapos.Com.

Redaksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *