RATENGGARO – PASOLAPOS.COM || Bupati Sumba Barat Daya (SBD), Ratu Ngadu Bonnu Wulla, menyatakan kesedihannya atas viralnya video kondisi Kampung Ratenggaro di media sosial melalui kanal Jajo Keliling Indonesia.
Dalam pertemuan bersama warga pada Jumat, 24 Mei 2025, Ratu Wulla bahkan tak kuasa menahan tangis saat menyampaikan rasa empatinya.
“Saya sangat sedih dan terluka. Saya tidak ingin masyarakat saya dihina hanya karena keterbatasan. Harga diri rakyat adalah harga diri saya,” ucapnya.
Ratu Wulla mengaku menerima banyak pesan dan tanggapan dari masyarakat terkait kondisi Kampung Ratenggaro yang ramai dibicarakan. Beberapa bahkan menyebutnya sebagai sesuatu yang memalukan. Hal ini membuatnya tergerak untuk segera mengambil langkah nyata.
Ia menginstruksikan para pejabat daerah, termasuk Asisten Daerah dan Wakil Bupati, untuk turun langsung menemui warga dan menyampaikan bahwa pemerintah hadir dan peduli terhadap situasi tersebut.
Dalam pertemuan itu, Ratu Wulla menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen untuk menata ulang kawasan Ratenggaro agar menjadi kebanggaan masyarakat, bukan sumber rasa malu.
“Walaupun belum ada anggaran melalui APBD II tahun ini, saya akan mencari solusi lain. Saya tidak akan diam melihat kondisi ini,” tegasnya.
Bupati juga menyebutkan bahwa Bank NTT telah menyatakan komitmennya untuk mendukung pengembangan fasilitas di Ratenggaro. Sementara sisanya akan diupayakan melalui jalur di luar APBD.
Tak hanya fokus pada infrastruktur, Ratu Wulla juga berencana memberikan bantuan produktif kepada masyarakat, seperti perahu untuk nelayan, ternak bagi petani, dan alat tenun untuk para pengrajin.
“Saya ingin setiap warga memiliki aktivitas yang bisa meningkatkan kesejahteraan mereka,” katanya.
Pemerintah juga berencana memberikan pelatihan bagi anak-anak di Kampung Ratenggaro, terutama dalam bahasa Inggris dan seni budaya, agar mereka mampu menyambut wisatawan dengan baik.
Selain itu, Bupati menyoroti pentingnya penguatan peraturan desa (perdes) yang telah disusun untuk pengelolaan pariwisata di Ratenggaro. Ia menegaskan agar aturan tersebut dijalankan secara konsisten.
Bagi yang tidak memiliki wewenang menurutnya tidak boleh bertindak semaunya. Pengelolaan kawasan wisata harus terstruktur.
Sebagai penutup, Ratu Wulla mengungkapkan rencana pembangunan sebuah lopo atau balai kegiatan masyarakat yang bisa digunakan sebagai pusat pelatihan dan aktivitas seni budaya di Ratenggaro.
Ia berharap kejadian serupa tidak terulang kembali, setiap tamu yang datang harus merasa nyaman, dan menjadikan itu sebagai tanggung jawab kita bersama.












