PASOLAPOS.COM || Permasalahan jaringan telepon dan internet di Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) masih menjadi persoalan klasik, terutama di wilayah pedalaman seperti Kecamatan Wewewa Selatan, Wewewa Barat, Wewewa Tengah, Wewewa Utara, Kodi, dan Loura.
Di tengah pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang kian tak terbendung, akses internet kini menjadi kebutuhan utama. Jaringan internet tidak lagi sekadar fasilitas tambahan, melainkan menjadi juru kunci dalam membuka akses informasi, pendidikan, ekonomi digital, hingga pelayanan publik. Hal tersebut disampaikan Don Bosco, Selasa (17/02/2026).

Melihat kondisi tersebut, pemerintah daerah SBD dinilai perlu merevitalisasi dan mengembangkan potensi pembuatan tower bambu sebagai pemancar jaringan internet. Inovasi ini dapat menjadi salah satu program akselerasi pemerataan internet di daerah tertinggal, karena dinilai lebih sederhana, berbiaya terjangkau, bahan mudah diperoleh, serta proses pengerjaannya relatif cepat.
Saat media GONGSUMBA.com menemui Bruder Ephrem Santos, SDB, ia mengakui keunggulan miniatur tower pemancar jaringan berbahan bambu tersebut. Menurutnya, kualitas jaringan yang dihasilkan mampu bersaing dan selevel dengan tower berbahan besi.
Ia menjelaskan bahwa tower bambu pemancar jaringan internet dengan ketinggian sekitar 30 meter tersebut merupakan hasil kerja sama dengan Kedutaan Inggris untuk Indonesia. Pulau Sumba dipilih sebagai lokasi uji coba karena dinilai memiliki kondisi geografis yang sesuai. Hingga saat ini, tercatat empat tower bambu pemancar jaringan internet telah tersebar di beberapa wilayah di Indonesia.
“Tower bambu menjadi saingan tower besi itu, untuk dipakai internet,” kata Br. Ephrem Santos, SDB, yang juga merupakan pimpinan LBK Don Bosco.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa saat ini pihaknya juga mengelola Balai Latihan Kerja (BLK) Don Bosco yang bermitra dengan Disnakertrans SBD. Program tersebut dimentori oleh putra-putri Sumba yang memiliki sertifikat kompetensi dan kualifikasi terpercaya.
BLK Don Bosco membuka tujuh jurusan pelatihan, antara lain: PLTS dan las, komputer, bengkel sepeda motor, meubel, listrik dan AC, les Bahasa Inggris, serta salon kecantikan.
“Semua guru mentor di BLK adalah orang Sumba, tidak ada guru orang Jawa,” ucap pimpinan BLK Don Bosco dari Kongregasi SDB asal Filipina tersebut.
Di akhir keterangannya, ia berharap kehadiran BLK Don Bosco dapat berkontribusi dalam menciptakan tenaga kerja yang terampil dan terdidik, sehingga mampu terserap di dunia kerja serta mendukung pembangunan daerah SBD secara berkelanjutan.***












