DETIK-DETIK BERSEJARAH PEMBONGKARAN MENARA GEREJA KATEDRAL WAITABULA.
PASOLAPOS.COM,WAITABULA == Setelah melayani dan berdiri kokoh sebagai saksi bisu perjalanan iman ribuan umat selama bertahun-tahun, Menara Gereja Katedral Waitabula kini memasuki babak baru dalam sejarahnya. Umat Paroki Katedral Waitabula, dengan penuh kesadaran dan rasa hormat, menyepakati proses pembongkaran menara bersejarah tersebut lantaran kondisinya yang kian mengkhawatirkan akibat dimakan usia dan pelapukan.
Suasana haru sekaligus khidmat menyelimuti halaman gereja saat proses penataan ulang ini dimulai. Sebelum alat-alat kerja disentuhkan ke bagian struktur bangunan, seluruh umat, para suster dari berbagai kongregasi, para biarawan-biarawati, serta jajaran pengurus paroki berkumpul untuk melaksanakan doa bersama. Peribadatan dan doa penyerahan ini dipimpin langsung oleh Uskup Keuskupan Weetebula, Mgr. Edmund Woga, CSsR.
Ungkapan Syukur dan Dedikasi
Dalam ibadat penyerahan tersebut, Mgr. Edmund Woga, CSsR mengajak seluruh umat untuk memandang proses pembongkaran ini bukan sekadar tindakan fisik terhadap sebuah bangunan, melainkan sebagai bentuk dedikasi, kepedulian, dan tanggung jawab demi keselamatan bersama serta keberlanjutan hidup berparoki.
“Menara ini telah menjadi penanda arah, pemanggil umat untuk bersekutu, dan penyeru doa selama bergenerasi-generasi. Hari ini, kita melepaskannya dengan penuh rasa syukur atas segala kenangan iman yang terpancar darinya, seraya memohon perlindungan Tuhan agar proses pembenahan ini berjalan aman dan lancar,” ungkap Bapak Uskup dalam doanya.
Pemberkatan air suci dilakukan di sekitar area menara sebagai tanda penyertaan Tuhan bagi para pekerja yang akan melaksanakan pembongkaran, sekaligus memohon perlindungan dari segala hal yang tidak diinginkan selama proses pengerjaan berlangsung.
Menjaga Warisan dan Keselamatan Umat
Langkah tegas pembongkaran ini diambil setelah melalui berbagai pertimbangan teknis dan musyawarah bersama. Struktur kayu dan penopang menara yang rentan rapuh dinilai berisiko jika terus dipertahankan, terutama saat cuaca ekstrem mendera wilayah Sumba Barat Daya.
Meskipun menara lama tersebut harus diruntuhkan, ingatan kolektif dan nilai historisnya tetap terpatri kuat di hati umat Paroki Waitabula. Pembongkaran ini menjadi penanda awal dari pembaruan fisik katedral, yang ke depannya diharapkan dapat digantikan dengan struktur menara baru yang lebih kokoh, aman, dan megah—tanpa menghilangkan keagungan nilai spiritual yang ditransmisikannya.
Menyongsong Harapan Baru
Usai doa bersama dan pendoaan ibadat selesai, proses pembongkaran bertahap mulai dilaksanakan secara hati-hati oleh tim teknis yang dibantu oleh keterlibatan aktif gotong-royong warga paroki. Semangat kebersamaan (renda) dan persaudaraan antaratmorfis spiritual antara hirarki gereja dan umat awam terpancar jelas dalam momen bersejarah ini.
Kini, Paroki Katedral Waitabula menatap masa depan dengan penuh harapan. Di atas tanah tempat menara tua itu pernah berdiri tegak, umat meyakini bahwa benih-benih iman yang ditanam di sana akan terus tumbuh dan berbuah manis bagi generasi-generasi mendatang.
Redaksi: PAUL






