Sejarah Perjalan Lapangan Alun-Alun Tambolaka: Jejak Waktu, Persatuan dalam Tempayan
Penulis:Paul Malo Ngongo.
PASOLAPOS.COM==TAMBOLAKA — Di jantung kota yang berdenyut di tanah Sumba Barat Daya, di mana angin savana berbisik di antara bukit-bukit hijau Lendo Ngara terbentang luas, Hamparan sawah hijau berpetak tanah yang menjanjikan sumber kehidupan yang kini menjadi napas bersama bagi seluruh masyarakat Sumba Barat Daya.
Telah lahir” Ia”adalah Alun-Alun Kota Tambolaka — bukan sekadar ruang terbuka, melainkan halaman besar yang menyimpan kisah perjalanan sebuah daerah, dari masa yang sederhana menuju masa yang penuh harapan.
Dari Lapangan Galatama Menuju Ruang Bersama
Dahulu kala, sebelum nama “alun-alun” melekat dengan kemegahannya, tempat ini hanyalah sebuah lapangan luas yang dikenal sebagai Lapangan Galatama. Rumput hijau menutupi tanahnya, dan di hari-hari biasa, ia menjadi tempat ternak — sapi dan kerbau milik warga berkeliaran dengan bebas, mengunyah rumput di tengah kota. Tidak ada pagar, tidak ada taman tertata, tidak ada lampu-lampu yang menyala di malam hari. Hanya tanah terbuka yang menjadi saksi mata matahari terbit dan terbenam di ufuk barat Sumba.
Sejarah perjalanan lapangan alun alun Tambolaka kabupaten SBD ini, awal mulanya bernama lapangan”Gollu Ghola”yang artinya lapangan yang luas yang di jadikan tempat untuk mengejar hewan yang dilepas oleh pemiliknya,disaat dibutuhkan ternak- ternak tersebut oleh para raja,Kapala kampung,Kapala suku dan pemilik ternak menggiring dilapangan ini(alun-alun)untuk di gunakan.
Perkembangan jaman dan kemajuan teknologi terbuka dimasa pemerintahan 1960-an,1970-an ada 3 wilayah yang masih gabung kecamatan Loura, Mamboro,Tanahrighu, Loura di sepakati pusat dari pemerintahan ada di Loura maka mengikuti perkembangan zaman lapangan ini berubah menjadi lapangan”Galatama”yang artinya Gabungan Loura,Tanarighu dan Mamboro.Kerinduan akan Loura merupakan pusat pergerakan kehidupan warga nama lapangan berubah lagi “Laratama”yang merupakan pintu masuk semua jalur darat, udara dan laut maka lapangan berubah nama Laratama sampailah saat ini yang masih menyimpan sejarah untuk dikenang adalah pemilik tokoh Yosep Anwar Umakalada.denga tulisan depan Toko LARATAMA.Sampai pemekaran lapangan tambolaka di jadikan aikon area publik dengan spontan berubah nama “Alun-alun Tambolaka”
Namun, sejak Kabupaten Sumba Barat Daya berdiri, wajah kota perlahan mulai berubah. Di bawah kepemimpinan Bupati dr. Kornelius Kodi Mete dan Wakil Bupati Marthen Christian Taka, benih harapan mulai ditanam: sebuah alun-alun yang layak menjadi wajah ibu kota kabupaten. Anggaran APBD II sebesar Rp 11 miliar menjadi awal dari perubahan itu, berkat raihan predikat WTP dua tahun berturut-turut yang menjadi kepercayaan sekaligus tanggung jawab besar.
Lahirnya Wajah Baru Tambolaka
Tahun 2023 menjadi babak bersejarah. Revitalisasi tahap pertama rampung pada Desember 2023 dengan anggaran lebih dari Rp 3 miliar, menyusul tahap kedua pada 2024 senilai lebih dari Rp 4 miliar. Di bawah kepemimpinan Bupati Ratu Wulla Talu dan Wakil Bupati Dominikus A. Rangga Kaka, perubahan itu semakin nyata — dari lapangan yang kumuh dan kurang terawat, menjelma menjadi taman hijau yang luas, dengan membawa air kehidupan , panggung terbuka, serta amphitheater untuk seni dan budaya .
Kini,alun alun membentang luas menantikan pergerakan aktifitas warga memanggil untuk memanfaatkan peluang ruang publik terbuka,di hiasi tempaiyan adalah lambang menopang tempayan besar di puncaknya — tiga tiang yang melambangkan Kodi, Wejewa, dan Loura — tiga wilayah besar yang bersatu dalam satu wadah. Tempayan itu bukan sekadar hiasan, melainkan simbol kehidupan, persatuan, dan kelimpahan yang mengalir dari ketiga tanah itu menjadi satu harapan bersama.
Senja yang Tak Pernah Sama
Sore hari di Alun-Alun Tambolaka kini memiliki warna yang berbeda. Anak-anak berlari di hamparan rumput hijau, keluarga duduk beralaskan tikar, pemuda-pemudi berjalan berkeliling menikmati angin savana. Lampu-lampu hias mulai menyala, mengubah alun-alun menjadi samudra cahaya di tengah malam. Di akhir pekan, warga dari berbagai kecamatan berdatangan — membawa jajanan, tawa, dan cerita — menjadikan tempat ini bukan sekadar milik pemerintah, melainkan milik setiap warga Sumba Barat Daya.






