PASOLAPOS.COM – Kodi Balaghar || Warga Desa Lokotali, Kecamatan Kodi Balaghar, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali menyuarakan keluhan terkait minimnya pelayanan penerangan listrik di wilayah mereka.
Keluhan tersebut juga disampaikan Kepala SMA Sinar Jaya, Adrianus Rangga Ngila, S.Pd., kepada media Pasola Pos pada Selasa (24/02/2026). Ia berharap adanya perhatian serius dari pemerintah kabupaten, provinsi, hingga pusat terhadap kondisi desa yang dinilai masih tertinggal dari sisi infrastruktur dasar.
“Dengan harapan ini, kami bisa mendapatkan perhatian khusus dari kabupaten, provinsi, hingga pusat,” ujarnya.
Warga menilai pemerintah daerah perlu membuka mata terhadap kondisi Desa Lokotali yang disebut masih sekitar 90 persen wilayahnya belum menikmati layanan listrik. Mereka menggambarkan situasi tersebut seperti kembali ke masa lampau, sebagaimana kondisi umum di sejumlah wilayah Kecamatan Kodi Balaghar.
Menurut keterangan warga, usulan pengadaan listrik telah berulang kali disampaikan melalui Musyawarah Rencana Pembangunan Desa (Musrenbangdes) di Balai Desa Lokotali. Namun hingga kini belum juga terealisasi.

Adrianus Rangga Ngila memaparkan bahwa lingkungan SMK Sinar Jaya juga masih mengalami kegelapan karena belum teraliri listrik. Kondisi tersebut berdampak langsung pada proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang dinilai belum berjalan maksimal.
“Sehingga kualitas peningkatan mutu proses KBM di sekolah ini semakin lambat dan masih sangat membutuhkan arus listrik,” jelasnya.
Ia menambahkan, keterbatasan listrik tidak hanya berdampak pada pendidikan, tetapi juga berpengaruh pada pelayanan kesehatan, penanganan dan pencegahan stunting, serta pertumbuhan ekonomi masyarakat. Selain itu, pembangunan infrastruktur jalan desa juga dinilai penting guna mendukung konektivitas wilayah dan peningkatan kualitas pendidikan anak-anak.
Adapun sejumlah kebutuhan mendesak di SMK Sinar Jaya dan wilayah Dusun 3 Desa Lokotali antara lain:
- Penerangan listrik (kWh) yang hingga kini masih nol persen di Dusun 3.
- Pembangunan tiga unit gedung baru.
- Jumlah murid saat ini sebanyak 48 orang.
- Penambahan guru honorer.
- Pembangunan dan perbaikan jalan desa.
- Penyediaan air bersih.
- Pengaspalan jalan dari batas Desa Waiha menuju Kantor Desa Lokotali hingga ke SMA Sinar Jaya, serta dari batas Desa Waikarara ke SDK Waiwondo tembus ke SMA Sinar Jaya yang hingga kini belum terealisasi.
Adrianus juga mengakui bahwa sekolah tersebut belum memiliki izin operasional mandiri dan sementara masih menginduk atau “nebeng” pada SMA Wewek. Meski demikian, ia bertekad mengembangkan yayasan pendidikan di wilayah tersebut, meskipun lokasinya terpencil, sulit dijangkau kendaraan, dan belum teraliri listrik.
“Saya ingin mengubah pola pikir anak-anak ke depan sehingga saya mekarkan yayasan ini di tempat yang jarang dilalui kendaraan roda dua dan roda empat serta sulit dijangkau listrik,” tuturnya saat ditemui di ruang sekolah.
Ia juga mengajak para orang tua murid dan tokoh masyarakat untuk bersatu serta menjaga stabilitas keamanan, sekaligus melestarikan nilai-nilai budaya daerah sebagai identitas siswa dan masyarakat Sumba Barat Daya.
Menurutnya, kondisi sekolah yang gelap membuat proses pembelajaran tidak kondusif sehingga sebagian siswa menjadi enggan hadir ke sekolah. Ketiadaan listrik juga menyebabkan berbagai fasilitas sekolah, termasuk peralatan administrasi dan alat tulis kantor (ATK), tidak dapat digunakan secara optimal.
“Guru-guru kewalahan karena tidak ada listrik sehingga kegiatan KBM sering terhenti. Kami kesulitan melayani murid di tengah kondisi sekolah yang minim fasilitas,” tambahnya.
Dalam pantauan media Pasola Pos pada Selasa (24/02/2026), pihak sekolah berharap dinas terkait seperti Inspektorat, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD), serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dapat turun langsung memantau kondisi sekolah yang hingga kini belum menikmati penerangan listrik maupun pembangunan infrastruktur pendukung.
Red***Mateus












