PASOLAPOS.COM — Warga di sekitar pesisir Waikelo, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), dihebohkan dengan temuan dua ekor kerbau yang mati dan terapung di perairan sekitar Pelabuhan Waikelo. Temuan tersebut memunculkan dugaan adanya penyelundupan ternak menggunakan perahu tanpa dokumen resmi.
Informasi yang dihimpun media ini menyebutkan bahwa sebelumnya terdapat sekitar 17 ekor kerbau yang diangkut menggunakan sebuah perahu. Namun hingga saat ini, baru dua ekor kerbau yang ditemukan dalam kondisi mati dan terapung di perairan Desa Radamata, Kabupaten SBD. Warga setempat bahkan terlihat memotong bangkai kerbau tersebut untuk diambil dagingnya.
Sementara itu, nasib sekitar 15 ekor kerbau lainnya masih menjadi misteri.
Berdasarkan keterangan warga di Pantai Kapabala, Kecamatan Kodi Utara, pada Jumat (6/3/2026), seorang warga bernama Petrus Lota Ndara menuturkan bahwa dirinya sempat melihat perahu yang diduga mengangkut ternak kerbau masih berada di tengah laut.
Menurutnya, perahu tersebut awalnya hendak merapat ke Pantai Kapabala, namun karena kondisi gelombang laut yang cukup ganas, perahu kembali berbalik arah ke tengah laut.
“Sebenarnya tadi sudah mulai merapat di pinggir pantai Kapabala, tetapi karena air laut ganas maka perahu kembali bergeser ke tengah laut,” tutur Petrus Lota Ndara.
Ia juga menyebutkan bahwa pada saat itu terlihat sejumlah anggota TNI berada di sekitar lokasi pantai, sambil menunggu kemungkinan perahu tersebut merapat ke daratan.
Di waktu yang bersamaan, pantauan media di wilayah Kapabala juga menunjukkan adanya aktivitas pembersihan lokasi di pinggir jalan yang disebut akan digunakan untuk pembangunan vila yang disponsori oleh seseorang bernama Rahman.
Media ini berada di lokasi sekitar pukul 11.00 hingga 13.00 WITA pada hari Jumat, sebelum kemudian kembali menuju Weetebula. Saat itu, sejumlah warga dan anggota TNI masih berada di sekitar lokasi pantai.
Namun kemudian muncul informasi bahwa perahu pengangkut ternak tersebut diduga karam di laut. Hingga Sabtu sore (6/3/2026), warga baru menemukan dua ekor kerbau yang terapung di perairan Waikelo dan kemudian dipotong oleh warga.
Kondisi ini menimbulkan berbagai pertanyaan di tengah masyarakat. Jika benar perahu tersebut karam, masyarakat mempertanyakan keberadaan awak kapal serta sisa ternak yang diduga berjumlah belasan ekor.
“Kalau kapal karam, biasanya semua yang ada di atasnya akan terlihat terapung di laut, kecuali benda yang sangat berat,” ungkap salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Berdasarkan keterangan sejumlah narasumber pada Minggu (8/3/2026), dari total 17 ekor kerbau yang diduga diangkut, dua ekor ditemukan terapung, sementara keberadaan lainnya masih belum diketahui.
Salah satu narasumber berinisial “M” juga menyebutkan bahwa dua ekor kerbau telah berhasil dibawa ke darat. Namun dirinya belum mengetahui apakah ternak tersebut sudah dialihkan kepemilikannya atau tidak.
“Dua ekor kerbau sudah sampai di darat, apakah ternak itu sudah dialih tangankan saya juga belum tahu,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Syahbandar Waikelo, Tony Katon, saat dihubungi melalui telepon pada Minggu (8/3/2026) sekitar pukul 11.20 WITA menyampaikan bahwa pihaknya belum menerima informasi resmi terkait perahu yang membawa ternak tersebut.
“Sampai saat ini belum ada informasi mengenai perahu yang akan tiba di dermaga Waikelo. Kalau ada kapal yang berangkat dan datang secara resmi pasti ada datanya, mulai dari dokumen keberangkatan, jumlah orang, hingga barang yang diangkut,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa jika sebuah perahu beroperasi tanpa dokumen resmi, maka dapat dikategorikan sebagai aktivitas ilegal.
“Boleh saya katakan perahu itu tanpa dokumen, saya anggap perahu ilegal,” tegas Tony Katon.
Sementara itu, beberapa anggota TNI di wilayah SBD yang mengetahui informasi mengenai dugaan perahu pengangkut ternak tersebut menyampaikan bahwa pihaknya masih mendalami laporan terkait dugaan kapal karam tersebut.
Salah satu anggota TNI yang akrab disapa Ama Kale mengatakan pihaknya masih melakukan penelusuran terkait lokasi pasti perahu yang diduga karam tersebut.
“Masih kami dalami kapal karamnya di mana,” ujarnya saat dikonfirmasi media pada Minggu (8/3/2026).
Hingga berita ini diturunkan, keberadaan sisa ternak yang diduga berjumlah sekitar 15 ekor serta nasib awak perahu masih belum diketahui secara pasti. Kasus ini pun memunculkan dugaan adanya praktik penyelundupan ternak ilegal yang perlu ditelusuri lebih lanjut oleh pihak berwenang.












