PASOLAPOS.COM || Sumba Barat Daya – Aktivitas penebangan dan pembabatan hutan secara ilegal kembali menjadi sorotan serius masyarakat Sumba Barat Daya (SBD). Menanggapi polemik tersebut, anggota Kodim 1629/SBD bersama awak media Pasola Pos melakukan penelusuran lapangan dan menemukan sejumlah titik rawan yang mengalami kerusakan hutan cukup parah.
Dalam penelusuran tersebut, anggota Kodim 1629/SBD, Yoris bersama rekan-rekannya, menemukan puluhan batang kayu jati yang telah ditebang oleh oknum tidak bertanggung jawab. Kayu-kayu tersebut diduga kuat akan dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi, baik digunakan sendiri maupun diperjualbelikan.
“Rencananya kayu jati ini diambil, dibawa ke rumah, kemudian dipotong dan dijual,” ungkap Yoris saat ditemui di Lopo Media Pasola, Selasa (4/2/2026).

Ironisnya, salah satu lokasi penebangan liar yang mengalami kerusakan parah berada di Kampung Wee Kaka. Kawasan hutan jati tersebut terletak tepat di belakang Kantor Kehutanan Kabupaten Sumba Barat Daya dan masih berstatus kawasan hutan.
“Lokasinya di belakang kantor kehutanan, Kampung Wee Kaka. Kampung Wee Kaka ini berada dalam kawasan hutan lindung,” jelas Yoris.
Ia menambahkan bahwa luas area pembabatan tergolong besar dan berpotensi menimbulkan dampak lingkungan serius di masa mendatang, mulai dari rusaknya ekosistem, meningkatnya risiko erosi tanah, hingga ancaman banjir dan longsor jika tidak segera ditangani secara serius dan preventif.
“Lokasi Wee Kaka ini baru satu titik. Masih banyak titik-titik lain yang kondisinya serupa,” tegasnya.
Lebih memprihatinkan lagi, aktivitas penebangan liar tersebut diduga telah berlangsung selama berbulan-bulan. Namun, keberadaannya justru lebih dulu terendus oleh anggota Kodim 1629/SBD yang jaraknya cukup jauh dari lokasi, dibandingkan pihak kehutanan yang memiliki kewenangan langsung dalam pengawasan kawasan hutan.
“Pembabatan ini sudah berlangsung lama. Kasihan kalau nanti terjadi banjir atau bencana, masyarakat yang jadi korban, padahal yang merusak hutan oknum-oknum tertentu,” ujar Yoris.
Kritik juga datang dari masyarakat. Joni (30), warga SBD, menyayangkan sikap diam pihak kehutanan yang dinilai tidak maksimal menjalankan fungsi monitoring dan pengamanan kawasan hutan lindung. Ia bahkan mencurigai adanya pembiaran atas aktivitas ilegal tersebut.
“Dinas Kehutanan tidak bisa dengar bunyi sensor, padahal lokasinya tidak jauh dari kantor mereka. Atau jangan-jangan ada indikasi kelalaian tugas,” ucap Joni dengan nada heran.
Hingga berita ini diturunkan, pihak UPT Kehutanan Kerorobo belum berhasil dikonfirmasi. Redaksi membuka ruang klarifikasi bagi pihak terkait untuk memberikan tanggapan resmi atas temuan ini.
Catatan:
Berita ini akan berlanjut. Tim Media Pasola Pos terus melakukan investigasi lapangan untuk mengungkap aktor-aktor di balik pembabatan hutan ilegal di Kabupaten Sumba Barat Daya.
Tim Redaksi PASOLAPOS.COM












