Religi  

Renungan Iman Syukuran Tahun Baru 2026 bersama P. Mikel M. Keraf, CSsR

Tunas Kehidupan Baru: Dunia Tanpa Sekat dalam Roh Tuhan

PASOLAPOS.COM | Waikabubak – Sabda Nabi Yesaya (Yes. 11:1–10) kembali bergema sebagai pesan iman dan harapan di awal Tahun Baru 2026. Bukan sekadar nubuat masa lampau, firman Tuhan ini menjadi seruan moral yang relevan bagi dunia masa kini yang masih terbelah oleh sekat-sekat suku, agama, kepentingan, dan rasa saling curiga.

“Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai… Roh TUHAN akan ada padanya: roh kebijaksanaan dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN.”

Renungan ini disampaikan dalam Misa Syukur Tahun Baru 2026 Paguyuban Lembata (Lamaholot) di Sumba Barat, yang dirayakan pada Kamis, 15 Januari 2026, di kediaman Bapak Tobias K. Kobun, Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh P. Mikel M. Keraf, CSsR.

Dalam kotbahnya, Pater Mikel menegaskan bahwa Yesaya adalah nabi harapan yang berbicara justru di tengah kehancuran. Ketika bangsa merasa lelah, masa depan tampak buntu, dan kehidupan seolah tersisa “tunggul” — sisa pohon yang telah ditebang — justru dari situlah Allah menumbuhkan tunas kehidupan baru.

Dari Tunggul ke Tunas: Harapan bagi Para Perantau

Bagi banyak orang, khususnya para perantau, hidup sering kali terasa seperti hidup dari sisa-sisa. Jauh dari kampung halaman, berjuang di tanah orang, dan berhadapan dengan ketidakpastian. Namun Yesaya menyampaikan pesan yang menguatkan: Tuhan bekerja justru dari situasi rapuh dan sederhana.

Allah tidak menunggu keadaan ideal untuk menciptakan masa depan. Ia memulai dari yang kecil, dari yang tersisa. Dalam konteks ini, Paguyuban Lembata di Sumba Barat dipandang sebagai tunas kehidupan baru—lahir dari kesederhanaan, namun membawa harapan bagi lingkungan sekitarnya.

Roh Tuhan sebagai Fondasi Hidup Bersama Tanpa Sekat

Yesaya menegaskan bahwa tunas ini tidak hidup oleh kekuatannya sendiri, melainkan oleh Roh Tuhan: roh kebijaksanaan dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan Tuhan.

Roh inilah yang memampukan manusia memandang perbedaan dengan hati, bukan dengan prasangka; berani memilih yang benar meski tidak populer; serta menyadari bahwa setiap manusia memiliki martabat ilahi. Inilah iman yang membentuk karakter dan tindakan, bukan sekadar identitas formal.

Keadilan yang Membela Kaum Lemah

Yesaya dengan tegas menyatakan bahwa pemimpin yang diurapi Tuhan tidak menghakimi menurut penglihatan mata, melainkan menegakkan keadilan bagi orang-orang lemah. Pesan ini menjadi cermin bagi setiap komunitas beriman.

Apakah kita sungguh berpihak kepada yang kecil? Apakah keadilan hadir dalam cara kita bekerja dan hidup bersama? Dunia baru tanpa sekat tidak mungkin lahir tanpa keadilan. Damai sejati hanya tumbuh ketika yang lemah dilindungi dan dihargai.

Hidup Berdampingan Tanpa Takut

Nabi Yesaya melukiskan gambaran yang tampak mustahil: serigala hidup bersama domba, singa makan jerami seperti lembu, dan seorang anak kecil menggiring mereka. Gambaran ini bukan dongeng, melainkan visi Allah tentang dunia yang telah disembuhkan.

Perbedaan yang dahulu menakutkan, dalam rencana Allah justru menjadi ruang kepercayaan. Sebagai orang Lembata yang hidup di tanah Sumba Barat, umat dipanggil untuk merawat relasi, meredam kecurigaan, serta membangun kepercayaan lintas batas budaya dan sosial.

Bumi Penuh Pengenalan akan Tuhan

Yesaya menutup nubuatnya dengan janji agung: “Bumi akan penuh dengan pengenalan akan TUHAN, seperti air menutupi dasar laut.” Artinya, iman tidak berhenti di rumah ibadat, tetapi mengalir dalam seluruh sendi kehidupan: dalam adat, pekerjaan, keluarga, serta solidaritas sosial.

Inilah visi dunia tanpa sekat—dunia yang dijiwai oleh Roh Tuhan, di mana iman menjadi sumber kekuatan untuk membangun kehidupan bersama yang adil, damai, dan bermartabat.

Penulis:
Agustinus B. Wuwur
Kepala Biro PasolaPos Sumba Barat /
Ketua KOMSOS Paroki St. Petrus dan Paulus Waikabubak

 

Tinggalkan Balasan