YAYASAN BAHTERA MENGELOLA SEKOLAH AMAN
PENGEMBANGAN KEBUN GIZI.
Oleh Agustinus B.Wuwur
Kepala Biro Pasolapos Sumba Barat/Ketua KOMSOS
Paroki Santo Petrus dan Paulus Waikabubak.
PASOLAPOS
COM==Program Sekolah Aman yang diimplementasikan oleh Yayasan BAHTERA di Sumba Barat selama 11 bulan : 1 Februari s.d. 31 Desember 2026,dilaksanakan di 3 Sekolah Dasar. Kegiatan yang dilaksanakan berkaitan dengan pengembangan gizi,pelatihan literasi dan numerasi.
Program yang diimplementasikan pada periode ini antara lain pelatihan dibagi 2 tahap:
Pelatihan Literasi dan Numerasi tahap 1 dilakukan pada 3 sekolah dampingan untuk guru-guru kelas rendah namun tetap diikuti oleh semua guru pada sekolah dampingan. Materi pada pelatihan ini spesifikasi bahan ajar untuk murid kelas rendah yang berkaitan dengan literasi.
Pelatihan Literasi dan Numerasi tahap 2 dilakukan juga di 3 sekolah dampingan untuk guru-guru kelas tinggi dengan konsentrasi utama pada Numerasi dan Literasi. Selain itu Pelatihan Pendidikan Inklusif bagi guru-guru di 3 sekolah dampingan dengan tujuan peningkatan kapasitas guru-guru untuk pendidiakan inklusif.
Peretemuan Komunitas di 3 sekolah dampingan dilakukan 3 kali pada periode ini. Selama program pendampingan, Yayasan BAHTERA juga membentuk Komunitas Sekolah pada setiap sekolah dampingan di mana pengurus komunitas sekolah berasal dari unsur pendidik,aparat desa,komite sekolah, dan orang tua murid. Komunitas Sekolah berperan untuk kegiatan pengembangan kebun gizi baik yang berada di halaman sekolah maupun yang dikerjakan secara berkelompok dan yang dibuat masing-masing kebun milik orang tua murid. Anggota komunitas didukung dengan benih hortikultura yang terdiri dari benih lombok,bawang merah,terong,wortel,benih sayur-sayuran,dan benih ikan lele.
Pengembangan Kebun Gizi Sekolah pada 3 sekolah dampingan terdiri dari : Kebun Gizi di Kompleks Sekolah,Kebun Gizi di Kelompok Komunitas,dan Kebun Gizi di rumah orang tua murid. Sampai dengan periode ini,komunitas sekolah telah mengembangkan kebun gizi berupa budi daya tanaman hortikultura,dan ikan lele. Komunitas yang mengembangkan jenis ikan lele di Hoba Jangi dan Rajaka.
Pada saat pelaksanaan program makanan tambahan bergizi di 3 sekolah (SDI Hoba Jangi,SDN Rajaka,Dan SDN Kadoku),memanfaatkan sayur-sayuran yang dikembangkan di halaman sekolah dan yang dikembangkan di kebun kelompok komunitas sekolah. Kendala utama dalam pengembangan kebun gizi khususnya di SDN Kadoku adalah tidak ada sumber air yang dapat mendukung kebun gizi sehingga hanya bisa dikembangkan di salah satu kelompok komunitas sekolah.
Audiensi dengan Pemerintah Kabupaten Sumba Barat bertujuan menyampaikan rencana implementasi program terutama kepada Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Sumba Barat, BAPPERDA dan Dinas Pekerjaan Umum serta dinas terkait lainnya. Juga dialog multistaeholders di Kabupaten Sumba Barat yang melibatkan : Dinas Pendidikan,Kepemudaan dan Olahraga,Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sumba Barat, Dinas PU Sumba Barat,BPBD Sumba Barat,BAPPERDA Sumba Barat,sebanyak 6 NGO Mitra Pembangunan Sumba Baat, Kepala Sekolah dari 3 sekolah dampingan,Ketua Komunitas dari 3 sekolah dampingan dilakukan dengan tujuan memaparkan kondisi terkini infrastruktur pendidikan di Kabupaten Sumba Barat yang tersebar di semua kecamatan,guna mendapatkan masukan-masukan dari stakeholder yang hadir ,dan membuat komitmen bersama untuk mendukung program pendidikan sekolah aman.
Dialog multistakeholders menghasilkan komitmen bersama yang terdiri dari 3 poin utama yakni : infrastruktur sekolah layak,penguatan literasi,dan sekolah aman bencana dan kesehatan lingkungan. Pertemuan komunitas sekolah dirangkai dengan pemberian makanan tambahan bagi murid-murid dengan konsumsi sayur-sayuran dan kebun gizi sekolah.
Staf Program Sekolah Aman : Marthen Hambabanju (Koordinator Sekolah Aman). Simon Erens Ga Djami (CO SDN Rajaka dan SDN Kadoku). Ermelinda R. Dama (CO SDI Hoba Jangi). Yulita Tagumara (administrasi dan keuangan). Proficiat Yayasan BAHTERA. ***

