Site icon Pasola Pos

SMA NEGERI 1 WAIKABUBAK DARI SUMBA UNTUK INDONESIA PADA LOMBA AJANG INTERNASIONAL DI MALAYSIA.

Oleh Agustinus B. Wuwur,S.Ag.
Kepala Biro Pasolapos Sumba Barat/Ketua KOMSOS
Paroki St.Petrus dan Paulus Waikabubak.

PASOLAPOS.COM, WAIKABUBAK==Belum lama ini Selasa (6/10/2026) Pasolapos bertandang ke SMA Negeri 1 Waikabubak,Sumba Barat,NTT mewawancarai Kepala Sekolah, Paulinus Sukur,S.Pd.,MM, dan siswa-siswi peserta lomba karya ilmiah di Malaysia, berkaitan dengan perolehan medali emas ajang internasional di Malaysia.

Selomita Nori Tika siswi kelas 12 D puteri dari Bapak Keba Janga dan Ibu Katrina Koni Kala dari Weebangga, Desa Tana Rara,Kecamatan Loli, ketika diwawancarai mengungkapkan perasaannya saat dengar pengumuman mendapat gold medali sangat kaget terus ada perasaan lega, bersyukur, rasa bangga dengan diri sendiri,dan tim.

Dengan menjuarai lomba ajang internasional dapat meningkatkan rasa percaya diri bahwa ternyata anak-anak Sumba punya potensi yang sangat luar biasa ketika dibina dan dituntun oleh orang yang tepat yaitu Pak Budisantoso ,dan kakak-kakak Terang Sumba:Eka,Alfin,Dea, Vita,Nia,Dewi,Darel,Eden. Lanjut Selomita bahwa timnya telah berjuang dan dipesiapkan kurang lebih 9 bulan,dan itu tidak sia-sia telah membuahkan hasil yang luar biasa.Mama sempat tidak percaya kalau bisa juara,kemudian mama sadar ternyata anak bisa karena dibimbing dengan baik,ungkap putri semata wayang ini yang bercita-cita jadi dokter.

Lain lagi ceritera dari Ade Umbu Jima Tkesmay Putera dari Bapak Soleman Kabu (alm) asal Soe,dan Ibu Frederika Rambu Podu asal Waimanu Anakalang,Sumba Tengah. Dede demikian ia biasa disapa mengatakan sangat bersyukur kepada Tuhan karena ia ikut bergabung dengan Sumba Bisa,dan sudah mencobanya hingga 3 kali baru bisa lolos memperoleh medali emas ,ia yakin itu semua karena Tuhan, dan perjuangan kurang lebih 9 bulan, kata Dede yang bercita-cita jadi dokter.

Maria Quedensia Febriana Bena Rua dari Tim Smansa, berceritera bahwa WICE 2026 bukan hanya tentang perjalanan perjuangan yang mereka lalui bersama dan proses yang banyak membentuk karakter menjadi lebih baik,tetapi juga bagaimana perjuangan mereview jurnal,melakukan eksperimen,latihan presentasi,semuanya penuh dengan up and down. Ada saat bersama teman gagal dan merasa sulit,tetapi ada juga banyak tawa ria ,kebahagiaan, bahkan air mata. Ia percaya, semua proses yang dilalui itu adalah cara Tuhan menepati doa yang ia panjatkan setahun yang lampau. Seperti tertulis dalam Yeremia 29:11, “Saya percaya Tuhan sudah menyiapkan rancangan terbaik bagi setiap kita.” Gold Medal bukan hanya tentang medali, tetapi juga tentang suatu perjuangan dan pengorbanan bersama teman yang menyerahkan harapan kepada Tuhan.

Pesan Maria kepada rekan sebayanya “gunakan masa muda untuk melakukan hal-hal yang berguna, karena apa yang kita tabur hari ini akan kita tuai di kemudian hari. Jangan takut mencoba, karena tanpa mencoba kita tidak akan tahu bagaimana rasanya gagal dan bangkit untuk mencapai kesuksesan. Dan, yang paling penting adalah selalu mengandalkan Tuhan dan percaya bahwa kita bisa dipakai menjadi sinar bagi Sumba tercinta” ungkapnya penuh semangat kepada Pasolapos.

Peserta Karin Sri Fortunata Bey menyampaikan kesannya bahwa perjalanan bersama tim menuju WICE di Malaysia bukanlah perjalanan yang singkat. Di balik sebuah Gold Medal yang dibawa pulang,ada kurang lebih sembilan bulan penuh perjuangan,pengorbanan, suka dan duka. Semuanya menurut Karin melalui proses yang panjang. Melakukan berbagai uji coba dan percobaan,hingga menghadapi berbagai tantangan yang tidak selalu mudah. Ada saat-saat tim merasa lelah,bingung,bahkan hampir kehilangan kepercayaa diri. Namun dari setiap tantangan itulah tim belajar untuk menjadi lebih berkomitmen,konsisten,dan saling mendukung satu sama lain.

Perjalanan dari Sumba kemudian menuju Surabaya, di sana tim masih melakukan simulasi lomba dan mendapatkan bimbingan dari beberapa profesor sebagai persiapan sebelum berangkat ke Malaysia. Setibanya di Malaysia tim diberi waktu mempersiapkan booth dengan tema rumah adat Sumba. Jujur saat itu tim merasa sangat nervous dan kurang percaya diri. Tim melihat banyak peserta hebat dari berbagai daerah dan negara,seperti Jakarta,Yogyakarta,Thailand,Meksiko,Bangladesh,dan negara-negara lainnya. Kemampuan Bahasa Inggris mereka juga sangat baik. Saat melihat kemampuan peserta lain,sempat terlintas dalam pikiran tim, “apakah tim mampu bersaing dengan mereka”.

Salah satu momen paling berkesan dalam perjalanan tim ketika Awarding Ceremony,nama sekolah dipanggil menerima Gold Medal membuktikan bahwa Sumba Bisa. Tim berprinsip jangan pernah membatasi mimpi hanya karena berasal dari tempat yang sederhana. Tim berangkat dari Sumba dengan membawa sebuah mimpi, pulang membawa bukti anak-anak Sumba Bisa. Karin mengakhiri komentarnya : “This is not just our victory. This is Sumba’s victory”.

Kepala SMA Negeri 1 Waikabubak, Paulinus Sukur, S.Pd,MM; ketika diwawancarai menjelaskan bahwa guru pembimbing peserta lomba Ibu Olviana Malo, S.Pd. Judul karya ilmiah yang dipresentasikan di ajang internasional itu utilization of Non-Edible Seed Oils (S.oleosa,C.inophyllum L.,S.foetida) as a Subtitution for Fossil Fuels as a Sustainable Biofuel.

Kepala sekolah ketika ditanyakan soal perasaannya berkaitan dengan perolehan medali emas, mengatakan bahwa sangat bangga dengan prestasi siswa-siswi SMA Negeri 1 Waikabubak bisa mengukir prestasi gemilang skala internasional dan mengharumkan nama sekolah. Dan menurut kepala sekolah upaya ke depannya baik guru maupun siswa-siswi memiliki pengalaman dalam hal pembimbingan dan latihan. Belajar dari kegiatan sebelumnya, tentu guru dan siswa-siswi akan terus dipersiapkan dengan baik terkhususnya terkait research/penelitian.

Guru pembimbing Ibu Olviana Malo,S.Pd, (guru mata Pelajaran Sejarah) menjelaskan bahwa latar belakang penelitian yang dilakukan oleh Tim Sumba Bisa SMA Negeri 1 Waikabubak yaitu ketergantungan global pada energi fosil meningkat 80 % dan menyebabkan krisis energi. Kita butuh energi terbarukan dari tanaman non pangan di Sumba Barat seperti S.oleosa,C.inophyllum,dan S.foetida.

Mengapa mereka memilih minyak non pangan, dijelaskan oleh Ibu Olviana bahwa hal itu dilakukan untuk menghindari konflik pangan vs energi. Minyak non pangan tidak bersaing dengan makanan dan melimpah di Sumba. Urgensi penelitian di Indonesia masih bergantung pada BBM fosil, dan di NTT khususnya Sumba Barat memiliki ketergantungan tinggi pada BBM fosil.

Penelitian ini menawarkan solusi energi terbarukan lokal. Penelitian sebelumnya hanya menguji 1 jenis minyak. Tim Sumba Bisa SMA Negeri 1 Waikabubak (SMANSA) membandingkan 3 jenis minyak sekaligus antara sifat fisikokimia dan kinerja pembakaran di mesin nyata. Ketiganya banyak tumbuh di Sumba, menghasilkan biji berminyak,dan belum diteliti secara komparatif untuk bahan bakar.

Dan, Ibu Ima Monteiro,S.Pd guru Bahasa Inggris ,menjelaskan kepada Pasolapos bahwa kemampuan Bahasa Inggris 4 peserta lomba di Malaysia bagus-bagus dan ia yakin bahwa kemampuan mereka akan berkembang pesat ketika memasuki dunia perkuliahan yang akan datang. Proficiat SMA Negeri 1 Waikabubak,proficiat Pemda Sumba Barat,proficiat Pemda NTT, proficiat INDONESIA.

Redaksi: Pasolapos

 

Exit mobile version