PASOLAPOS.COM – ( Suatu Refleksi Tentang Bekerja )
Sosok Tokoh Adolph Kolping bukanlah orang yang bersifat sabar. Sebagai pemuda (umur 24 tahun), yang masih duduk di bangku SMA, ia menulis surat kepada seorang teman : “ Engkau tidak bisa membayangkan bagaimana hatimu berkobar-kobar mengerjakan sesuatu bagi umat dan masyarakat, bagaimana saya rasa didesak oleh segala macam masalah yang terjadi dalam bangsa dan gereja, tetapi terpaksa duduk di kursiku dan menghafal kata-kata Yunani lalu terkadang melibatkan diri dalam kepentingan umum…”
Adolph bercerita dan penuh frustrasi karena tidak mau mengerti bahwa untuk Kerajaan Allah sungguh perlu seseorang tahu tentang tekanan setiap kata dari suatu bahasa yang sudah mati sejak dua ribu tahun silam, serta segala pengetahuan ilmiah sekolah lain yang nampak tak berguna.
Waktu akhirnya ia ditahbiskan imam, dengan segera ia ingin melaksanakan pelbagai pekerjaan sekaligus : menulis brosur tentang visinya mengenai persekutuan tukang muda, mendirikan dan menyebarluaskan persatuan tukang muda itu, menjadi pendidik dan pembina keluarga-keluarga Katolik dengan menerbitkan suatu Koran Mingguan, menjalankan suatu percetakan , menulis ribuan surat, membuat perjalanan jauh untuk mengunjungi sebanyak mungkin kota di Jerman untuk mempromosikan idenya, mencari pembina tukang senior dan preses bagi karyanya, juga untuk mencari sponsor-sponsor untuk rencana-rencananya ; pada saat yang sama ia merasa wajib untuk merenovasi satu gedung gereja putih yang diserahkan kepadanya. Ia memelihara persekutuan tukang dengan ribuan orang, termasuk tokoh-tokoh politis, pemimpin gereja, tetapi terutama dengan orang muda yang diperhatikan secara khusus.
Melihat segala kesibukannya itu, kita mendapat kesan bahwa ia seorang yang seolah-olah dihajar oleh seribu setan kecil yang tidak ingin Adolph berhenti sebentar untuk mengambil napas lagi. Maka dengan heran kita membaca apa yang ditulisnya dalam sebuah buku kelender yang disusun dan diterbitkannya : “ Jangan coba mengajak berlari, orang yang belum bisa berjalan!”.
Rupanya Romo Adolph mau memberi suatu nasihat bagi dirinya sendiri : Coba kerjakan pekerjaanmu satu demi satu ! Semuanya dapat ditunda selama engkau masih sibuk dengan menyelesaikan suatu tugas lain. Namun Adolph sendiri tidak menjadi teladan dalam hal itu bagi kita. Apakah dia sudah tahu, bahwa kehidupannya relatif singkat, sehingga harus mengerjakan banyak hal dalam waktu yang sangat terbatas ?
Kalau kita membaca Injil Markus kita mendapat kesan yang sama tentang Yesus, yang kadang-kadang tidak mempunyai waktu untuk makan.
Yesus hanya mempunyai waktu beberapa bulan untuk bekerja di Galilea sebelum berangkat ke Yerusalem untuk dibunuh di sana. Tetapi Yesus pun mengajar orang untuk bersabar. Benih yang ditabur perlu waktu untuk bertumbuh (Mrk 4 : 26 -29 ).
Berdiskusi tentang kerja ada baiknya ada sekilas pintas diurai benang merah tentang Karya Kolping Sumba , Keluarga-Keluarga Kolping di Sumba dan Biro Kolping Nasional yang tentunya pernah dicatatat dalam sejarah Kolping Internasional, Indonesia, khususnya Sumba.
Bagi orang Katolik di Sumba Kolping pernah dikenang sebagai suatu organisasi kaum awam dengan pembimbing rohani seorang preses dan asisten rohani dan komisi-komisi yang membidangi pemberdayaan ekonomi, pemberdayaan perempuan, dan pemberdayaan umat dalam wadah Keluarga-Keluarga Kolping dengan Karya Kolping Sumba , dan Biro Kolping Nasional di Waikabubak.
Karya Sosial Karitatif : Kursus menjahit bagi kaum putri Sumba, penghijauan, program seribu sumur, pertukangan, perikanan , penghijauan, dan beberapa asrama putri di Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat, dan Sumba Barat Daya telah memberi manfaat tersendiri bagi banyak orang.
Karya Kolping sebagai organisasi kaum awam Katolik tidak hanya pernah ada di Sumba, bahkan ada di Flores dan Timor. Kendati Kolping kini hanya tinggal kenangan beberapa aset bangunan asrama dan kantor Kolping di Sumba tentu bermanfaat bagi paroki-paroki yang ada aset Kolping. Penulis sebagai Ketua Karya Kolping Sumba selama sembilan tahun bersama Preses Karya Kolping Sumba Pater Herman Yosef May ,CSsR (alm) telah pula membuat kontrak dengan paroki-paroki tertentu di Sumba apabila Organisasi Kolping Sumba tidak aktif maka aset menjadi milik paroki.
Ketika Penulis menjadi Ketua Karya Kolping Sumba dan Pater Herman Yosef May, CSsR sebagai Preses Karya Kolping Sumba , telah dibangun sebelumnya Gereja Katolik di Minggitimbi, Sumba Timur : ada “ Relikwi Beato Adolph Kolping “ di Gereja Minggitimbi sebagai suatu kenangan berharga bagi umat di Minggi Timbi.
Bagaimana sekarang dengan kita ? Mengikuti nasihat Yesus dan Kolping untuk bersabar – atau kita meniru Yesus dan Kolping dalam kegiatan dan kesibukan yang luar biasa itu ? Barangkali begini : Kita belajar dari Yesus dan Kolping bahwa semuanya harus dibuat pada waktu yang tepat, dalam bahasa Kitab Suci disebut KAIROS. Apa yang perlu dan bisa kita kerjakan saat ini ? Pertanyaan itu harus kita jawab sendiri. Kita tidak boleh berpangku tangan saja dan menonton bagaimana dunia berputar. Hanya orang yang melihat peluang, menyadari tantangan dan bertindak mempergunakan KAIROS yang diberi oleh Allah. Seorang bayi belum dapat berlari… dia membuat saja satu langkah…dua…tiga…empat…sampai dia sanggup berlari juga. ***
Pasola Pos/Red. Diolah oleh Agustinus B. Wuwur. ( Materi sajian Pater Prof. Dr. Herman Yosef May, CSsR alm ).

