Refleksi Kehidupan dan Pencarian Makna.
Pandangan Socrates tentang Keberanian Bertanya, Kebenaran, dan Resiliensi
Kehidupan mengajarkan kita bagaimana manusia menjelaskan arti kebenaran dan kesalahan, dengan tujuan mengajak setiap orang untuk melihat, memahami, serta menghindari berbagai persoalan yang datang, sehingga manusia mampu membangun pola kehidupan yang lebih bermakna. Pertanyaan yang muncul sekarang adalah apakah manusia sudah mampu melihat dan melaksanakan apa yang benar serta menghindari apa yang salah, atau justru masih terjebak dalam persoalan yang sama tanpa menemukan jalan keluar. Jika dikatakan ya, mengapa di balik kehidupan masih tersimpan algoritma kehidupan yang belum terselesaikan, seolah-olah manusia telah mengetahui apa yang benar, tetapi belum mampu menerapkannya dalam tindakan nyata, sebab pengetahuan yang tidak disertai refleksi dan keberanian bertindak hanya akan menjadi pemahaman yang berhenti pada pikiran tanpa menghasilkan perubahan dalam kehidupan.
Pemahaman manusia harus memiliki prinsip untuk berani bertanya tentang suatu tema yang dibahas, dengan tujuan mengerti dan memahami arti pokok pembahasan yang dijelaskan, sehingga manusia tidak hanya menerima suatu pendapat sebagai kebenaran, tetapi juga mampu menguji alasan yang mendasarinya melalui pemikiran yang kritis dan rasional. Dengan demikian, manusia tidak berputar-putar dalam kolam pemikiran yang sama sehingga tidak sampai pada tujuan yang diinginkan, melainkan berusaha menemukan jalan keluar melalui pertanyaan yang tepat, keterbukaan terhadap pendapat orang lain, dan kesediaan untuk memperbaiki pemahaman ketika menemukan kekeliruan. Dalam pandangan Socrates, bertanya merupakan bagian penting dari pencarian kebenaran karena manusia tidak dapat memperoleh pengetahuan yang mendalam apabila hanya mengandalkan pendapat yang belum diperiksa, sedangkan keberanian mengakui ketidaktahuan menjadi langkah awal untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik.
Manusia sekarang ini identik dengan kebiasaan mencari validasi atau menyelamatkan harga diri, walaupun suatu tindakan menunjukkan keputusan yang salah, sehingga manusia lebih mengutamakan pengakuan orang lain daripada keberanian untuk mengakui kesalahan dan memperbaiki diri. Sikap tersebut memperlihatkan bahwa manusia sering kali lebih takut kehilangan penghargaan daripada kehilangan kebenaran, padahal pengakuan yang diperoleh melalui tindakan yang keliru tidak dapat menjadi dasar bagi kehidupan yang bermakna. Socrates mengajak manusia untuk tidak menjadikan pendapat umum sebagai ukuran utama kebenaran, melainkan memeriksa kembali keyakinan dan tindakan melalui dialog serta pertanyaan yang mendalam, sebab seseorang yang berani mengakui kesalahan memiliki kesempatan untuk berkembang, sedangkan seseorang yang terus mempertahankan kesalahan hanya demi menjaga harga diri akan semakin jauh dari kebenaran.
Keinginan untuk bertanya sering kali muncul, tetapi manusia masih berpegang pada ketakutan terhadap kesalahan apabila ungkapannya tidak sesuai dengan apa yang dipikirkannya, sehingga keberanian untuk mengungkapkan pendapat menjadi terhambat oleh kekhawatiran akan penilaian orang lain. Tindakan inilah yang menunjukkan bahwa di balik kehidupan masih terdapat makna atau persoalan yang belum terselesaikan, terutama ketika manusia lebih memilih mencari zona nyaman daripada menghadapi kenyataan yang membutuhkan keberanian, tanggung jawab, dan perubahan.
Manusia sering kali menginginkan kehidupan yang tenang pada masa sekarang, tetapi kurang memperhatikan dampak dari keputusan yang diambil terhadap masa yang akan datang, sehingga berbagai persoalan masih marak terjadi di berbagai tempat, terlebih khusus dalam bidang pendidikan, ketika peserta didik terkadang lebih mengutamakan hasil daripada proses belajar, mencari pengakuan daripada pemahaman, serta menghindari kesalahan daripada menjadikannya sebagai kesempatan untuk berkembang.
Socrates mengatakan, “Kehidupan yang tidak direfleksikan tidak patut untuk dijalani,” yang menunjukkan bahwa manusia perlu memiliki karakter yang berani merefleksikan arti kehidupannya sendiri, bukan sekadar menjalani kebiasaan tanpa mengetahui alasan dan tujuan di balik tindakannya. Manusia yang dikatakan memiliki akal budi seharusnya mampu menggunakan pengetahuan untuk membedakan tindakan yang benar dan salah, tetapi apakah pengetahuan tersebut masih hidup dalam dirinya atau justru sudah tenggelam oleh kesenangan yang tidak disertai refleksi? Pertanyaan ini mengajak manusia untuk memeriksa dirinya sendiri, sebab pengetahuan bukan hanya tentang kemampuan menghafal atau menjelaskan sesuatu, melainkan juga tentang kesanggupan memahami alasan suatu tindakan dan menerapkannya secara bertanggung jawab. Bagi Socrates, kehidupan yang baik tidak dapat dipisahkan dari pemeriksaan diri, karena manusia perlu mengetahui apakah tindakannya sesuai dengan nilai kebaikan yang diyakininya. Oleh karena itu, refleksi bukanlah kegiatan untuk menyalahkan diri sendiri, melainkan usaha untuk mengenali kekurangan, memahami kesalahan, dan menemukan kemungkinan untuk memperbaiki kehidupan.
Oleh karena itu, untuk mendapatkan kehidupan yang lebih bermakna, manusia harus mampu merefleksikan arti kehidupannya sendiri, sehingga dapat menemukan berbagai persoalan yang terjadi dan menentukan letak persoalan tersebut dengan lebih tepat. Setelah mengetahui letak persoalan, manusia dapat mengambil tindakan yang sesuai dan keluar dari persoalan itu sendiri, bukan dengan melarikan diri dari kenyataan, melainkan dengan menghadapi penyebabnya secara sadar dan bertanggung jawab. Pemikiran Socrates memperjelas bahwa manusia tidak cukup hanya mengetahui sesuatu yang baik, tetapi juga perlu berusaha mewujudkannya dalam tindakan sehari-hari, sebab pengetahuan yang tidak diwujudkan dalam kehidupan akan kehilangan makna praktisnya. Dengan demikian, keberanian untuk bertanya, kesediaan menerima kritik, dan kemampuan mengakui kesalahan menjadi bagian penting dalam proses membangun kehidupan yang lebih baik.
Hal berikutnya adalah manusia harus memiliki budaya resiliensi, yaitu kemampuan untuk bangkit dan bertahan menghadapi kesulitan, serta kesanggupan untuk menyesuaikan diri tanpa kehilangan arah dan tujuan hidup. Dengan mempertahankan dan menanamkan budaya ini, berbagai persoalan dalam kehidupan dapat dihadapi secara lebih bijaksana tanpa harus terus-menerus berlari mencari zona nyaman yang justru membuat kehidupan menjadi persoalan yang belum terselesaikan. Resiliensi bukan berarti manusia tidak boleh merasa takut, sedih, atau gagal, melainkan kemampuan untuk menerima kenyataan, belajar dari pengalaman, dan kembali berusaha ketika menghadapi kesulitan.
Dalam semangat pemikiran Socrates, manusia perlu terus memeriksa dirinya agar tidak menyerah pada keadaan, melainkan menemukan makna dari setiap pengalaman dan menjadikannya sebagai dasar untuk bertumbuh. Dengan demikian, kehidupan yang bermakna bukanlah kehidupan tanpa persoalan, melainkan kehidupan yang dijalani dengan kesadaran, keberanian bertanya, keteguhan menghadapi kesulitan, dan kesediaan untuk terus mencari kebenaran.
Nama: Yakobus Henggu Mila Meha.Dari: Mahasiswa Fakultas Filsafat Unika Kupang.
