Penulis:Paulus Malo Ngongo.
PASOLA POS.COM==Wilayah kecamatan Loura,kini menjadi mekar salah satu kecamatan Kota Tambolaka di Kabupaten
Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki akar sejarah, sistem pemerintahan tradisional, serta kekayaan budaya yang sangat erat kaitannya dengan peradaban Pulau Sumba.
Berikut adalah rangkuman komprehensif mengenai sejarah perjalanan Loura,Kota Tambolaka sampai pada struktur pemerintahan masa lampau, serta warisan budaya masyarakat Loura.
Sejarah perjalanan suku Loura di sampaikan oleh Almarhum Bpk Stepanus Malo Ngongo(di panggil Bupati Lede Kalumbang membantu urusan pemerintahan kecamatan Loura)lahir 1932 meninggal dunia pada tahun 2019,pada umur 94 tahun,juga cerita lain dari berbagai orang tua ada yang sesuai tapi ada juga tidak sesuai lalu berbagai sumber dan beberapa bacaan tulisan dalam buku sejarah dan orang-orang yang tahu tentang sejarah perjalan hidup orang loura.Bpk Stepanus sebelum meninggal beliau menceritakan poin-poin secara global tentang sejarah perjalanan kerajaan dan kehidupan warga Loura,dalam catatan di agenda redaksi masih banyak yang disampaikan,kalaupun ada yang belum sesuai dalam tulisan,jika tidak berkenan kepada seluruh warga Loura,kota minta tolong disampaikan dengan cara kekeluargaan,ikuti ulasan yang disampaikan Almarhum Bpk Stepanus Malo Ngongo:
Sejarah Kerajaan Loura dan Masa Pemerintahan Kolonial Belanda
Sebelum masuknya pengaruh administratif modern dan pengaruh bangsa asing ke Pulau Sumba, Loura merupakan sebuah wilayah berdaulat berbentuk kerajaan tradisional (Kerajaan Loura).Dalam catatan sejarah pemerintahan Hindia Belanda di Sumba, tercatat beberapa figur raja yang memimpin Kerajaan Loura di awal abad ke-20.
Silsilah susunan raja-raja kerajaan Loura mencakup era pemerintahan tradisional,kolonial Belanda hingga transisi pembentukan swapraja.urutan pemimpin kerajaan Loura yaitu:
1:Raja Ama Mbiri Kalumbang.masa kolonial(sampai 1928)pemimpin Loura pad a akhir abad ke 19 hingga abad ke 20 yang di sahkan oleh pemerintah kolonial Belanda,Ia meninggal pada tahun 1928.
2:Raja Timotius Kaka(Ama Loghe Nsara)1928-1932.Putra dari raja Ama Mbiri Kalumbang yang menggantikan posisinya setelah ayahnya wafat pada tahun 1928.
3:Raja Raoe Kaka.1932-1947.sebagai raja loura yang pada masa transisi akhir koloniel Belanda menjajah hingga pendudukan Jepang sampai menjelang awal kemerdekaan Indonesia.
4:Lede Kalumbang sebagai pelanjut kerajaan Loura dan aktif di pemerintahan pada masa transisi akhir menjelang kemerdekaan.dilanjutakan pelantikan Bupati Sumba Barat masa jabatan 1958-1961.
Masa Pemerintahan Raja Ama Biri Kalumbang (1911–1928): Periode di mana struktur adat dan kekuasaan lokal mulai bersinggungan langsung dengan kebijakan administratif pemerintah kolonial Belanda.
Tongkat kerajaan jatuh ditangan Tako Geli pada Masa Pemerintahan Raja Timoteus Tako Geli (1928–1932): Melanjutkan kepemimpinan di tengah transisi sosial-politik serta penguatan sistem birokrasi adat di bawah pengawasan pemerintah kolonial.
Struktur Birokrasi Tradisional Kerajaan Loura
Dalam sistem pemerintahan tradisionalnya pada masa lalu, Kerajaan Loura memiliki struktur hierarki adat yang terorganisasi rapi untuk mengatur kehidupan masyarakat, di antaranya:
Leti: Berperan sebagai wakil raja untuk menyelesaikan berbagai urusan penting kerajaan.
Opata: Bertindak sebagai pesuru atau utusan raja dalam menjalankan tugas-tugas pemerintahan.
Kepala Wanno: Pemimpin yang mengatur tata pemerintahan di tingkat kampung (wanno) sekaligus mengurus penarikan pajak adat.
Wakil/Muljura: Utusan Kepala Wanno yang bertugas mengundang rakyat ketika ada kerja bakti atau hajatan kerajaan.
Kepala Oma: Pejabat adat yang memimpin dan mengatur rakyat dalam bidang pertanian.
Ata Mangeda: Tokoh yang melaksanakan titah Kepala Wanno terkait urusan pemerintahan dan adat-istiadat.
Warisan Budaya: Umma Kalada dan Kampung Adat (Wanno Kalada)
Masyarakat adat Loura hingga kini masih menjaga warisan leluhur yang berpusat di sembilan kawasan kampung adat (Wanno Kalada) yang tersebar di wilayah seperti Karuni dan sekitarnya. Beberapa elemen penting dalam sejarah kebudayaan meliputi:
Umma Kalada (Rumah Induk): Rumah adat besar yang menjadi lambang asal-usul suatu suku atau klan (kabizzu). Di dalamnya terdapat empat tiang utama (pari’i) yang posisinya tidak pernah berubah dari generasi ke generasi.
Odi (Kuburan Megalitikum): Kompleks kuburan batu megalit yang menjadi tempat peristirahatan para leluhur suku Loura.
Sistem Kepercayaan Marapu: Kepercayaan tradisional masyarakat Loura yang memuja leluhur dan kekuatan alam, di mana ritual adat dipimpin oleh seorang pemuka adat yang disebut Rato.
Cerita Rakyat dan Mitologi Lokal
Sejarah lisan masyarakat Loura juga diwarnai oleh berbagai cerita turun-temurun. Salah satu cerita rakyat yang terkenal dari wilayah ini adalah kisah “Tombak Kawauka” yang berasal dari suku Bumalere, Kecamatan Loura. Cerita-cerita rakyat ini biasanya mengandung nilai moral, asal-usul marga, serta jejak kepahlawanan para leluhur di masa lampau.
Perkembangan dan Kajian Sejarah
Hingga saat ini, sejarah dan kearifan lokal Loura terus menjadi objek penelitian akademis, pelestarian cagar budaya, serta muatan lokal pendidikan. Upaya ini dilakukan untuk menjaga identitas kultural masyarakat Loura agar tidak tergerus oleh arus modernisasi, sekaligus merawat situs-situs sejarah peninggalan leluhur di Sumba Barat Daya.
Redaksi.

