TAMBOLAKA – PASOLAPOS.COM || Sejarah perkembangan Gereja Katolik di Tambolaka merupakan kisah panjang tentang iman, pengorbanan, dan semangat gotong royong umat. Jauh sebelum berdirinya Paroki Santo Arnoldus Janssen Tambolaka seperti yang dikenal saat ini, kehidupan umat Katolik berpusat di Stasi Radamata, yang pada masa itu masih berada dalam wilayah pelayanan Paroki Weetebula.
Dalam keterbatasan sarana dan prasarana, umat Katolik saat itu melaksanakan ibadat dan pelayanan sakramen dengan menumpang di ruang kelas SDK Tambolaka, yang kini dikenal sebagai SDK Marsudirini Tambolaka. Meskipun sederhana, tempat tersebut menjadi titik awal tumbuh dan berkembangnya iman umat Katolik di wilayah Tambolaka.
Salah satu tokoh yang menjadi saksi hidup perjalanan sejarah tersebut adalah Leonardus Tata Fernandez, yang hingga kini dikenal sebagai salah satu tokoh umat yang terlibat sejak awal pembentukan Stasi Radamata. Dalam penuturannya, ia mengingat bahwa proses perubahan dari stasi menjadi sebuah paroki tidak berlangsung secara instan, melainkan melalui perjuangan panjang yang membutuhkan komitmen, pengorbanan, dan kerja sama seluruh umat.
Menurut Leonardus, pada era 1980-an, kepemimpinan umat berada di bawah Ketua Dewan Stasi, Stepanus Malo Ngongo, seorang tokoh masyarakat yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Radamata selama beberapa periode. Selain dikenal sebagai pemimpin pemerintahan yang disegani, Stepanus juga merupakan perintis pemekaran Desa Kalena Wanno dan memiliki perhatian besar terhadap perkembangan Gereja.
Di tengah keterbatasan fasilitas serta luasnya wilayah pelayanan dari Paroki Weetebula, Stepanus Malo Ngongo menyadari pentingnya menghadirkan rumah ibadah yang permanen bagi umat. Ia meyakini bahwa pertumbuhan jumlah umat harus diimbangi dengan tersedianya tempat ibadah yang layak sebagai pusat persekutuan, pembinaan iman, dan pelayanan pastoral.
Keinginan tersebut kemudian menjadi gerakan bersama. Bersama sejumlah tokoh umat lainnya, Stepanus mulai menggalang dukungan untuk mewujudkan pembangunan gereja permanen yang nantinya menjadi cikal bakal Paroki Santo Arnoldus Janssen Tambolaka.
Leonardus Tata Fernandez mengenang beberapa nama yang turut berperan besar dalam perjuangan tersebut, antara lain Mateus Geli, Ambros Nani Ngongo, Bernat Kalumbang, Frans Bulu, Markus Malo, Klemens Bulu Lele, Talu Wangu, Leo Gaina, dan Ama Eri. Selain mereka, masih banyak tokoh umat lain yang ikut menyumbangkan tenaga, pikiran, material, maupun dukungan moral, meskipun tidak semuanya dapat disebutkan satu per satu.
Peran kaum pendidik juga tidak kalah penting. Nama-nama seperti Guru Leonardus Gaina, Guru Zuba, dan Guru Bessu turut memberikan kontribusi melalui dunia pendidikan dengan menanamkan nilai-nilai iman dan semangat pelayanan kepada generasi muda.
Pembangunan gereja pada masa itu tidak didukung oleh sumber dana yang besar. Sebaliknya, pembangunan berjalan berkat semangat swadaya dan gotong royong umat. Setiap keluarga mengambil bagian sesuai kemampuan masing-masing. Ada yang menyumbangkan tenaga, menyediakan bahan bangunan, membantu transportasi material, maupun mendukung kebutuhan para pekerja.
Dalam proses tersebut, Stepanus Malo Ngongo berperan sebagai pemersatu dan penggerak utama. Dengan pengaruh dan kepemimpinannya, ia mampu mengajak umat untuk bekerja bersama demi mewujudkan cita-cita memiliki gereja yang mandiri.
Tantangan yang dihadapi tidaklah ringan. Akses transportasi yang terbatas, kondisi infrastruktur yang belum memadai, serta sulitnya memperoleh material bangunan menjadi hambatan tersendiri. Namun semangat persatuan umat tidak pernah surut. Sedikit demi sedikit, pembangunan terus berjalan hingga akhirnya berdirilah gereja permanen yang kemudian dikenal sebagai Gereja Santo Arnoldus Janssen Tambolaka.
Bangunan gereja tersebut bukan sekadar tempat ibadah, melainkan simbol perjuangan dan persatuan umat Katolik Tambolaka. Setiap bagian dari bangunan itu menyimpan kisah pengorbanan para pendahulu yang dengan penuh iman mempersembahkan tenaga dan waktunya demi perkembangan Gereja.
Kini, Paroki Santo Arnoldus Janssen Tambolaka telah berkembang menjadi salah satu pusat pelayanan Gereja Katolik yang penting di Kabupaten Sumba Barat Daya. Perjalanan panjang dari sebuah stasi kecil yang menumpang di ruang kelas sekolah hingga menjadi paroki yang mandiri menjadi bukti nyata bahwa iman, kerja keras, dan persatuan mampu menghasilkan karya besar yang bertahan lintas generasi.
Warisan yang ditinggalkan oleh Stepanus Malo Ngongo, Leonardus Tata Fernandez, dan para tokoh umat lainnya tidak hanya berupa bangunan fisik gereja, tetapi juga nilai-nilai pengabdian, semangat pelayanan, dan kecintaan terhadap Gereja yang terus hidup dalam diri umat hingga saat ini.
Sejarah tersebut menjadi pengingat bahwa kemajuan Gereja tidak pernah lahir dari usaha satu orang saja, melainkan dari kebersamaan seluruh umat yang bersedia memberikan diri demi kemuliaan Tuhan dan pelayanan bagi sesama. Dengan semangat yang sama, generasi penerus diharapkan mampu menjaga dan melanjutkan warisan iman yang telah dibangun oleh para pendahulu demi masa depan Gereja yang semakin kuat dan berakar di tanah Tambolaka.
Redaksi: Paul

