Site icon Pasola Pos

Paroki St. Petrus dan Paulus Waikabubak Canangkan Program Reksa Pastoral Keluarga 2026–2031

Perayaan Pelindung Paroki St. Petrus dan Paulus Waikabubak Dirangkai Pencanangan Reksa Pastoral Keluarga.

 

Oleh Agustinus B. Wuwur

Kepala Biro Pasolapos Sumba Barat / Ketua KOMSOS Paroki St. Petrus dan Paulus Waikabubak

PASOLAPOS.COM – WAIKABUBAK || Senin (29/6/2026) berlangsung Perayaan Ekaristi memperingati Pelindung Paroki Waikabubak, Santo Petrus dan Paulus. Selebran utama Romo Yustin didampingi Pastor Paroki Romo Konstantinus Nggajo, Pater Agustinus Waluyo Abubakar, CSsR, dan Romo Yeremias Aquino Nazuli. Dicanangkan pula Program Reksa Pastoral Keluarga lima tahun (2026–2031) oleh Pastor Paroki, yang ditandai dengan pemukulan gong dan penandatanganan dokumen Program Reksa Pastoral Keluarga, kemudian diserahkan kepada Ketua Tim Reksa Pastoral Keluarga, Titus Diaz.

Romo Konstantinus berkhotbah berkenaan dengan peran Rasul Petrus dan Paulus dalam kehidupan menggereja bagi umat paroki, sebagai dasar yang kuat dalam kehidupan serta perkembangan iman dan keyakinan, serta spiritualitas hidup beriman kepada Allah. Dua rasul sebagai pelindung paroki, dalam kesederhanaannya, menjadi pewarta sukacita. Kita pun bersyukur atas perlindungan dan pertolongan Tuhan semata-mata, juga doa Santo Petrus dan Paulus yang diandalkan sebagai kekuatan bagi umat.

Romo Konstantinus mengajak umat membangun kerja sama dalam situasi yang sangat tidak menentu saat ini. Umat terus-menerus berdoa agar Paroki Waikabubak semakin mandiri melalui perwujudan cinta kasih. Pada momentum Perayaan Ekaristi ini, sembilan anak dibaptis oleh Pater Agus. Mereka menjadi anggota Gereja agar Gereja terus berkembang dengan pembaptisan baru ini. Dengan demikian semakin banyak orang percaya kepada Allah, dan hal itu membahagiakan kita semua.

Ketua Tim Reksa Pastoral Keluarga Paroki, Titus Diaz, menjelaskan latar belakang kegiatan bahwa Gereja yang kuat mencerminkan keluarga yang tangguh. Sebagaimana Paus Benediktus XVI memandang keluarga sebagai institusi fundamental yang berakar pada rencana Allah, berfungsi sebagai “Gereja Rumah Tangga”, dan merupakan fondasi utama bagi masyarakat serta iman.

Paus Fransiskus mendorong keluarga untuk menjadi tempat kehidupan, bukan kematian; tempat penyembuhan, bukan penyakit; dan arena pengampunan, bukan rasa bersalah. Sedangkan Paus Leo XIV menegaskan bahwa keluarga merupakan tempat istimewa untuk bertemu dengan Yesus yang mengasihi kita dan menginginkan kebaikan kita. Dengan demikian, perdamaian keluarga menjadi fondasi perdamaian masyarakat dan dunia.

Dasar biblisnya adalah Kitab Kejadian Bab 27:31.

Tujuan Pastoral Keluarga menurut Titus ada dua, yaitu:

  1. Mendampingi keluarga-keluarga Katolik untuk menghayati dan memaknai Sakramen Perkawinan dalam realitas kehidupan sehari-hari.
  2. Memberdayakan keluarga-keluarga Katolik agar semakin tangguh menghadapi berbagai tantangan zaman dari aspek iman, pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan masalah migran/perantau.

Kondisi eksisting keluarga di Paroki St. Petrus dan Paulus Waikabubak, dalam faktanya, kondisi keluarga ideal pada keluarga tertentu sulit diwujudkan. Fenomena meningkatnya kasus perceraian, kekerasan dalam rumah tangga, kenakalan remaja dan premanisme, serta permasalahan anak lainnya, kemiskinan, dan keterbelakangan merupakan kondisi eksisting keluarga saat ini yang bersumber dari ketidakharmonisan yang terjadi dalam dinamika keluarga Katolik.

Data BPS Tahun 2026 menunjukkan bahwa angka kemiskinan di Kabupaten Sumba Barat sebesar 26,47% atau 41.715 jiwa, dengan jumlah orang miskin yang beragama Katolik sebanyak 9.373 jiwa. Di samping itu, masih ditemukan banyak keluarga Katolik yang tidak mampu mewujudkan pendidikan yang baik untuk anak-anaknya karena perencanaan pendidikan yang masih kurang matang.

Masalah kesehatan juga masih cukup tinggi yang ditandai dengan angka prevalensi stunting yang terus meningkat dari waktu ke waktu, di samping masalah kesehatan lainnya seperti angka kesakitan serta angka kematian ibu dan anak. Data menunjukkan bahwa pada tahun 2025 angka stunting Kabupaten Sumba Barat sebesar 22,47% atau sebanyak 1.846 kasus, di mana terdapat 415 kasus yang berlatar belakang agama Katolik.

Di samping itu, persoalan migran/perantau juga merupakan isu aktual yang perlu mendapat perhatian serius saat ini. Data menunjukkan bahwa jumlah Pekerja Migran Indonesia dari Kabupaten Sumba Barat tahun 2025 berjumlah 498 orang, di mana PMI yang beragama Katolik sebanyak 45 orang.

Menurut Titus, rencana aksi Reksa Pastoral Keluarga di Paroki St. Petrus dan Paulus Waikabubak antara lain:

1. Pembentukan Tim

2. Pendampingan Pra-Nikah

a. Pendampingan anak-anak dengan menanamkan nilai-nilai Kristiani dan kemanusiaan serta kebiasaan menabung demi masa depan mereka.

b. Pendampingan Taruk dan OMK mengenai bimbingan tentang orientasi panggilan hidup berkeluarga Katolik dengan Sakramen Perkawinan, merencanakan pendidikan anak, ekonomi keluarga, dan pembentukan kepribadian.

c. Pendampingan calon pengantin, antara lain mengenai kelengkapan administrasi (sipil maupun gerejawi), penghayatan perkawinan Katolik, kesehatan reproduksi, perencanaan pendidikan anak-anak, gender, dan KDRT.

3. Pendampingan Paska Nikah

a. Keluarga dalam kondisi biasa dikategorikan berdasarkan usia perkawinan:

b. Keluarga dalam kondisi khusus, yaitu:

Pelaksanaan Reksa Pastoral Keluarga melibatkan:

  1. Pastor Paroki dan Pastor Kapelan sebagai pemimpin spiritual yang memberikan sakramen dan arahan pastoral.
  2. Seksi Kerawam, Seksi Pendidikan, dan Seksi Ekonomi DPP yang bertugas merancang program, konseling, pendampingan, dan pemberdayaan keluarga.
  3. Awam atau pasangan suami istri yang berpengalaman, konselor, psikolog, serta pimpinan Credit Union.
  4. Para suster, bruder, pembina umat, guru agama, dan kelompok kategorial yang membantu dalam pelayanan, kunjungan, dan pembinaan iman.

Pada peringatan Pelindung Paroki St. Petrus dan Paulus Waikabubak Tahun 2026 juga dilaksanakan berbagai lomba kegiatan rohani dengan Ketua Panitia Ibu Ima Monteiro. Lomba lektor/lektris dan kegiatan lainnya mewarnai suasana kehidupan menggereja yang menggembirakan.

Ibu Rensi Raga, salah satu anggota panitia, ketika dihubungi Pasolapos berkomentar:

“Partisipasi yang luar biasa dari lingkungan dan stasi, walaupun waktu untuk mempersiapkan lomba sangat singkat. Semoga tahun 2027 lomba yang serupa dapat diselenggarakan kembali.”

Proficiat Panitia dan seluruh umat Paroki St. Petrus dan Paulus Waikabubak.

Exit mobile version