Site icon Pasola Pos

Mengenang Stefanus Malo Ngongo, Sosok Pemimpin Umat yang Mengabdi Sepenuh Hati untuk Gereja

Alm. Stefanus Malo Ngongo.

PASOLAPOS.COM | Waikabubak – Sosok almarhum Stepanus Malo Ngongo kembali mendapat penghormatan melalui tulisan reflektif Agustinus B. Wuwur, Kepala Biro Pasolapos Sumba Barat sekaligus Ketua KOMSOS Paroki Santo Petrus dan Paulus Waikabubak. Tulisan tersebut merupakan kesaksian pribadi penulis yang pernah mengenal dekat almarhum ketika Stasi Tambolaka masih menjadi bagian dari Paroki Katedral Roh Kudus Weetebula.

Dalam tulisannya, Agustinus mengisahkan bahwa dirinya mengenal Stepanus Malo Ngongo sejak tahun 1988 ketika menjabat sebagai Ketua MUDIKA (Muda-Mudi Katolik) Paroki Katedral Roh Kudus Weetebula. Menurutnya, Stepanus adalah pribadi yang mudah diajak berdialog, ramah, terbuka kepada siapa saja, penuh semangat, optimis, dan memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat.

Membaca pemberitaan Gong Sumba mengenai perjuangan Stepanus Malo Ngongo membangun Stasi Tambolaka hingga berkembang menjadi Paroki Santo Arnoldus Janssen Tambolaka, Agustinus mengaku kembali mengingat perjuangan panjang yang dijalani almarhum bersama umat pada masa-masa awal perkembangan Gereja Katolik di Tambolaka.

Saat itu, umat masih melaksanakan ibadah di ruang kelas SDK Tambolaka sebelum memiliki gedung gereja sendiri. Dalam situasi yang penuh keterbatasan tersebut, Stepanus Malo Ngongo dipercaya menjadi Ketua Stasi dan memimpin umat dengan penuh dedikasi.

Menurut Agustinus, ada tiga hal utama yang paling membekas dari kepemimpinan Stepanus Malo Ngongo.

Pertama, Stepanus mengenal umat yang dipimpinnya secara dekat. Ia membangun komunikasi yang baik dengan seluruh umat sehingga tercipta hubungan timbal balik yang membuat kepemimpinannya berjalan efektif.

Kedua, ia memiliki rasa memiliki (sense of belonging) yang sangat kuat terhadap Gereja dan umat. Jabatan Ketua Stasi tidak pernah dipandang sebagai sebuah posisi semata, tetapi sebagai panggilan pelayanan. Karena itu, seluruh tenaga, pikiran, dan waktunya dicurahkan untuk membangun Gereja sekaligus membina umat agar semakin mandiri, baik dalam kehidupan iman maupun dalam pelayanan pastoral dan kemandirian ekonomi.

Ketiga, Stepanus dikenal sebagai sosok yang rela berkorban. Agustinus menilai pengorbanan merupakan ujian terbesar bagi seorang pemimpin. Namun, Stepanus tidak pernah menghindari tanggung jawab ataupun mengorbankan orang lain demi kepentingan dirinya sendiri. Sebaliknya, ia selalu berada di garis depan dalam setiap perjuangan umat.

Semangat pelayanan itu juga terlihat dalam berbagai kegiatan paroki. Menurut Agustinus, setiap kali diadakan pesta paroki maupun kegiatan MUDIKA, umat Stasi Tambolaka selalu mengambil bagian secara aktif. Lapangan Karitas di Pintu Sapi menjadi tempat berbagai pertandingan olahraga dan perlombaan rohani yang semakin mempererat persaudaraan antarumat.

Pada masa itu, pelayanan pastoral dipimpin oleh Pastor Paroki Paul Hasler, CSsR, bersama rekan-rekan imam lainnya yang melayani wilayah yang sangat luas, mulai dari Weetebula, Kererobo, Weelonda, Taworara hingga Tambolaka.

Agustinus juga mengenang keterlibatannya sebagai Ketua Karya Kolping Sumba selama sembilan tahun bersama almarhum Pater Herman Yoseph May, CSsR. Dalam berbagai kunjungan pastoral ke Stasi Tambolaka, mereka selalu mendapat sambutan hangat dari Pastor Paroki Pater Bernard Bala Ile, SVD, yang saat itu menjabat sebagai Preses Keluarga Kolping Tambolaka, serta Pater Mige Raya, SVD sebagai Preses Kehormatan.

Menurutnya, keberadaan Wisma Kolping Tambolaka di Eta Kua sebagai pusat kursus menjahit bagi kaum perempuan dan pembinaan anggota Kolping merupakan salah satu buah perjuangan Stepanus Malo Ngongo bersama para pengurus stasi dan umat.

Agustinus juga mengutip catatan dalam Buletin Berita Kolping Sumba Nomor 1 Tahun 2010 yang memuat hasil Rapat Anggota Tahunan Keluarga Kolping Tambolaka periode 2010–2012. Dalam rapat tersebut terpilih kepengurusan baru yang dipimpin oleh Albert Dondo sebagai Ketua, didampingi Simon Towa sebagai Wakil Ketua, John Riti sebagai Sekretaris, dan Martina Wada Mali sebagai Bendahara. Rapat tersebut turut dihadiri Preses Karya Kolping Sumba Pater Herman Yoseph May, CSsR, Ketua Karya Nasional Agutina Bulu, serta Agustinus B. Wuwur selaku Ketua Dewan Karya Kolping Sumba.

Di akhir tulisannya, Agustinus menyampaikan bahwa Stepanus Malo Ngongo telah mengabdikan seluruh hidupnya bagi Gereja dan umat hingga akhir hayatnya. Menurutnya, almarhum telah meninggalkan warisan iman, semangat pelayanan, dan teladan kepemimpinan yang akan terus dikenang oleh keluarga, anak cucu, serta seluruh umat yang pernah mengenalnya.

“Bapak Stepanus telah berbahagia di Rumah Bapa di Surga. Tubuhnya menjadi rabuk di tanah subur yang menumbuhkan kegembiraan bagi keluarga, anak, cucu, dan kita semua yang mengenalnya. Kedamaian batin, kebanggaan, dan rasa hormat yang tulus kita persembahkan kepadanya,” tulis Agustinus B. Wuwur sebagai penutup refleksinya.

(Redaksi/Pasolapos)

Exit mobile version