Mario Venerial Umbu Zerri
611 20 036
Fakultas Filsafat
Universitas Katolik Widya Mandira
Kupang,2022
Pendahuluan
Dalam kehidupan di dunia ini, begitu banyak hal yang membawa manusia pada pertanyaan-pertanyaan yang menarik untuk dibicarakan sehingga memperoleh pemahaman yang baik. Pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul ketika manusia mulai menyadari adanya realitas yang sedang dihadapi dan sedang dinikmatinya. Dalam menikmati suatu realitas itu, manusia kemudian menyadari bahwa ada sesuatu yang istimewa yang telah dialami dan dinikmati namun tidak terpikirkan. Realitas yang istimewa itu kemudian disadari perannya yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Manusia mulai berpikir betapa uniknya realitas yang telah membuat hidup manusia nyaman dan merupakan tempat tinggal bagi semua makhluk hidup. Dari pikiran-pikiran tersebut, muncul pertanyaan-pertanyaan unik yang selalu memacu rasa ingin tahu yang tinggi. Manusia melakukan berbagai usaha agar apa yang dipertanyakan dapat terjawab secara memuaskan.
Seperti telah dikatakan di atas, hadirnya kosmos telah melahirkan banyak pertanyaan dalam kehidupan ini. Pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul dari mereka yang telah menyadari bahwa sebenarnya kosmos yang merupakan tempat tinggal manusia sangat menentukan kehidupan manusia. Sehingga muncul pertanyaan dari beberapa pemikir. Pertanyaan paling mendasar mengenai kosmos ini ialah kosmos terbentuk oleh apa? Apa yang menjadi prinsip pertama alam semesta? Atau apa yang menjadi Arkhe atau prinsip dari kosmos atau alam semesta ini? Ada banyak pendapat atau teori-teori atau bentuk-bentuk pemikiran yang bermunculan sebagai tanggapan atau jawaban atas pertanyaan tersebut. Berikut akan diuraikan beberapa bentuk pemikiran kosmologi atau alam semesta.
Pembahasan
Pemikiran Kosmologi Spekulatif
Pemikiran kosmologi spekulatif kebanyakan didalami oleh para filsuf alam jaman Yunani Kuno. Mereka disebut sebagai filsuf alam karena dalam usaha pencaharian kebenaran mengenai arkhe atau prinsip dasar alam semesta diamati melalui kajadian-kejadian alam saja. Pada masa itu, belum ada alat-alat yang cukup memadai seperti pada jaman sekarang sehingga kejadian alam menjadi objek utama dalam menganalisis sesuatu. Filsuf pertama yang berusaha mencari tahu arkhe alam semesta adalah Thales. Thales berusaha memahami dunia tanpa meminta bantuan intervensi dewa-dewa. Dengan kemampuan akal pikirannya, Thales berusaha menemukan arkhe atau asas alam semesta. Ia mengatakan bahwa alam semesta adalah air. Baginya, semua hal berasal dan akan kembali menjadi air. Thales melihat bahwa segala bentuk kehidupan manusia di dunia ini bergantung pada air. Tanpa air manusia tidak dapat bertahan hidup. Bukan saja manusia, tetapi hewan dan tumbuhan juga sangat bergantung pada air. Maka dari itu, Thales menyimpulkan bahwa air merupakan dasar alam semesta. Kemudian muncul Mazhab Pytagorean. Mazhab ini mengatakan bahwa bukan bumi yang merupakan pusat jagat raya. Menurut Mazhab Pytagorean, pusat jagat raya adalah api atau hestia(hestia sebenarnya berarti: perapian, tungku. Sebagaimana perapian merupakan pusat rumah, demikian juga api merupakan pusat jagat raya). Pandangan mazhab ini mengenai bumi didasarkan pada pengalaman hidup sehari-hari di rumah, di mana dalam setiap rumah terdapat perapian yang merupakan pusat rumah, di mana setiap anggota keluarga saling berbagi cerita, masak makanan, mencari kehangatan. Berdasarkan pengalaman tersebut, maka mazhab ini menyimpulkan bahwa api juga merupakan pusat alam semesta. Terdapat juga seorang filsuf dari Kolophon, Asia Kecil, yakni Xenophanes. Ia menyangka bahwa bumi tersimpul dalam proses edaran yang selalu berlangsung terus. Tanah menjadi lumpur, lalu menjadi air laut. Sebaliknya, laut menjadi lumpur, lalu menjadi tanah. Dengan demikian, Xenophanes berpendapat bahwa semua realitas yang ada baik tanah, lumpur, laut dan sebagainya mengalami gerak lurus yang terus-menerus. Demikianlah para filsuf alam menganalisis alam semesta hanya berdasarkan spekulasi atau pernyataan tanpa bukti yang cukup kuat terhadap alam semesta.
Pemikiran Kosmologi Ilmiah
Ada suatu kebaruan yang sangat membangun dalam bentuk pemikiran kosmologi ilmiah ini. Kalau dalam bentuk pemikiran awal (spekulatif) hanya menggunakan kemampuan analisis spekulatif semata untuk memahami alam semesta, maka dalam pemikiran kosmologi ilmiah sudah masuk pada tahapan yang lebih ilmiah. Keilmiahan tersebut didasarkan pada berbagai percobaan yang dilakukan. Ada tiga tokoh penting dalam bentuk pemikiran kosmologi ilmiah. Pertama, Copernicus. Teorinya yang terkenal mengenai alam semesta ialah helio-centris. Dalam teori tersebut, Copernicus menegaskan bahwa pusat jagad raya bukanlah bumi sebagaimana diajarkan Aristoteles dan kemudian dilegalkan oleh Gereja abad pertengahan, tetapi mataharilah sebagai pusat gerakan planet di jagad raya. Sejak jaman Copernicus (yang terkenal dengan bukunya de revolutionibus) pandangan revolusioner bahwa bumi mengelilingi matahari timbul seiring dengan penemuan teleskop (pandangan ini mengalahkan pandangan Eropa sebelumnya yang berdasarkan pandangan filsuf Yunani Aristoteles yang mendominasi dunia selama dua millenia yang beranggapan bahwa matahari mengelilingi bumi). Copernicus merumuskan tujuh macam hipotesis terkait dengan jagad raya: a) tidak ada sentrum bagi seluruh bola-bola langit; b) bumi meskipun dipandang sebagai pusat gravitasi, bukanlah merupakan sentrum cosmos; c) bola-bola planet bergerak mengelilingi matahari sebagai sentrumnya; d) jarak antara bumi ke matahari tidak dapat diukur melalui luas cakrawala ruang angkasa; e) bumi setiap hari mengelilingi porosnya sendiri; f) gerakan bumi lebih dari satu macam; g) gerakan bumi memberikan pemahaman adanya gerakan benda-benda langit. Kedua, Galileo Galilei. Dalam salah satu karyanya yang berjudul Sidereus Nuncius, ia menjelaskan berbagai karakter planet bulan, bintang-bintang dan tentang tempat satelit yupiter. Selain itu, dalam karyanya yang berikut dengan judul Letter on Sunspots juga berisi dukungan kepada teori Copernicus yang bereaksi keras terhadap pandangan Bible mengenai gerak bumi dan stabilitas matahari. Galileo Galilei juga mendukung dengan jelas bahwa matahari merupakan pusat dari jagad raya. Kemudian muncul Isaac Newton dengan tiga penemuan besar yang berhasil dicapainya. Ketiga penemuan itu yakni: Perhitungan tentang differentia benda dan gelombang serta masalah-masalah gerak dalam fisik, penemuan tentang hukum komposisi cahaya, dan penemuan tentang hukum gaya berat. Dalam penemuan gaya berat inilah Newton coba membuktikan bahwa gerakan yang membimbing atau menarik bulan dan planet-palnet mengelilingi matahari ialah gaya berat.
Pemikiran Kosmologi Kritik
Tokoh utama dalam kosmologi kritik adalah Imanuel Kant. Filsafat kritik merupakan ilmu pengetahuan yang meneliti dengan metodenya sendiri sistem kaidah-kaidah pemikiran pengenalan a priori, artinya lepas dari pengalaman tetapi untuk segala pengalaman yang mungkin dalam matra kognitif, etis dan estetis. Kant lebih mementingkan dan menekankan rasio sebagai sarana dalam memahami alam semesta. Terjadinya kosmos dapat dipahami menggunakan teori Nebular, Hipotesis Kabut. Immanuel Kant mencoba mengemukakan pikiran tentang kejadian bumi. Berdasarkan teori Newton tentang gravitasi, Kant mengatakan bahwa asal segalanya ini adalah dari gas yang bermacam-macam, yang tarik-menarik membentuk kabut besar. Terjadinya benturan masing-masing gas, menimbulkan panas. Matahari berputar kencang, dan katulistiwanya memiliki kecepatan linear paling besar, sehingga terlepaslah fragmen-fragmen. Fragmen-fragmen inilah yang tadinya pijar, melepaskan banyak panas, dan mengembun. Kemudian cairan dan bagian luar makin padat. Demikianlah terjadinya planet, termasuk bumi kita ini.
Pemikiran Kosmologi Matematik
Albert Einstein adalah salah satu tokoh penting dalam membangun pemikiran kosmologi matematik. Salah satu teorinya yang terkenal untuk memahami alam semesta ialah Teori Medan Terpadu. Alam semesta memiliki dua medan dasar, yaitu medan gravitasi dan medan elektromagnetik. Untuk menjelaskan kenyataan itu, ada dua perangkat teori yang dapat digunakan, yakni teori relativitas yang menjelaskan konsep kita tentang ruang, waktu, gravitasi, dan realitas lain yang jauh tak teramati. Kemudian ada teori kuantum yang menjelaskan dunia sub-atomik yang sulit diamati dan dipahami. Kedua teori tersebut jelas sangat bertolak belakang. Maka untuk mendamaikan kedua teori tersebut, Einstein mencoba melakukan hal baru. Bermodalkan keyakinan akan keteraturan dan keharmonisan alam, ia mencoba membangun suatu hukum fisika tunggal yang dapat digunakan, baik untuk mikrokosmos mauapun makrokosmos. Teori tersebut kemudian disebut dengan Toeri Medan Terpadu (Unified Field Theory).
Pemikiran Kosmologi Baru
Pemikiran kosmologi baru semakin mengalami perubahan. Perubahan tersebut diwarnai oleh perdebatan antara beberapa kelompok. Perdebatan muncul karena adanya pertentangan mengenai pemikiran masing-masing kelompok. Pemikiran yang diperdebatkan terlebih menyangkut metode-metode dalam memahami alam semesta. Dua kelompok besar yang masuk dalam perdebatan tersebut. Pertama, kategori intelektual yang mengembangkan metode yang berakar pada eksperimentasi sebagaimana lazim dilakukan oleh ilmu-ilmu alam. Bagi kelompok ini, eksperimentasi merupakan satu-satunya metode ilmiah yang paling pasti, sah, valid dan dapat dipercaya. Kelompok ini mengembangkan teori rekonstruksi yang meliputi dua tahap, yakni: tahap empirical observation (observasi empiris) seperti percobaan-percobaan, pengukuran-pengukuran dan manipulasi. Tahap berikut ialah logical generalization (penyimpulan logis) melalui jalur induksi. Kelompok kedua adalah kategori intelektual yang mengembangkan teori kosmologi atas dasar ilmu fisika-matematis. Dalam kelompok ini, hipotesis memegang peranan penting, sebab hipotesis berfungsi sebagai prediksi observasi. Di tengah perdebatan kedua kelompok besar itu, muncullah seorang matematikus muda: Herman Bondi. Bersama dengan Thomas Gold dan Fred Hoyle, ia memperkenalkan satu teori baru yang diberi nama The Steady State Theory (Teori Keadaan Tetap). Secara sederhana, menurut teori tersebut alam semesta yang sekarang dan yang lalu sebenarnya adalah sama, walaupun kelihatannya tidak sama. Teori ini beranggapan bahwa apa diamati saat ini akan tetap sama. Alam semesta pada hakikatnya tetap dan selalu akan tetap. The Steady State Theory berpendapat bahwa materi yang hilang melalui resesi galaksi-galaksi, karena pengembungan alam yang berlangsung terus menerus digantikan oleh materi yang baru saja tercipta sehingga alam semesta yang terlihat tetap berada dalam keadaan tidak berubah (steady state), artinya bahwa materi secara terus-menerus tercipta di seluruh alam semesta. Teori ini sama sekali tidak menyebut peristiwa awal yang bersifat khusus pada waktu atau ruang. Tidak ada awal maupun akhir karena materi diperbarui secara terus-menerus di satu tempat sementara di tempat lain dihancurkan.
Pemikiran Kosmologi Sintesis
Dengan menggunakan istilah sintesis, model pemikiran ini mencoba menggabungkan prinsip-prinsip pemikiran ilmiah dengan kaidah-kaidah pemikiran filosofis yang bercorak kritis-spekulatif. Salah satu tokoh penting yang muncul dalam pemikiran kosmologi sintesis adalah Alfred North Whitehead. Filsafat Whitehead yang terkenal ialah filsafat proses. Melalui filsafat proses, Whitehead bermaksud menjadikan proses sebagai kategori utama dalam menjelaskan realitas alam semesta. Maka dalam realitas alam semesta tentu ada proses mengalirnya waktu dan adanya kegiatan yang saling berkaitan. Dalam usahanya menjelaskan realitas alam semesta, Whitehead menggunakan pendekatan Filsafat Spekulatif. Filsafat spekulatif merupakan usaha untuk menyusun suatu sistem ide dasar yang koheren, logis dan penting yang dengannya setiap unsur pengalaman dapat ditafsirkan. Ketentuan koheren dan logis hanyalah memenuhi persyaratan rasional bagi filsafat. Maka syarat lain yang dibutuhkan ialah sifat-sifat empiris yang harus berguna dan tepat. Berguna berarti bahwa ide-ide yang diperoleh dapat dipergunakan untuk memberi pengertian terhadap pengalaman yang diperoleh. Tepat berarti bahwa tidak ada sesuatu yang dianggap keliru dalam menjelaskan realitas alam semesta dengan ide-ide tersebut. Whitehead mengatakan bahwa proses perubahan dari satuan aktual ke satuan aktual dimungkinkan karena adanya prinsip kreativitas (creativity), maka prinsip tersebut juga biasa disebut sebagai salah satu unsur formatif. Lebih lanjut ia menegaskan bahwa pandangan kosmologi materialisme ilmiah didasarkan atas pandangan dunia yang berakar pada kosmologi Descartes, yang menganggap dunia ini melulu sebagai materi atau benda yang terbentang. Filsafat proses tidaklah mengingkari aspek yang-tetap dan yang-berubah, karena kedua hal tersebut merupakan dua aspek pengalaman manusia. Dari sini dapat dikatakan bahwa Whitehead juga mengakui bahwa realitas yang ada merupakan sesuatu yang majemuk.
Penutup
Berdasarkan pemaparan bentuk-bentuk pemikiran kosmologi di atas, masing-masing bentuk pemikiran memiliki kekhasannya masing-masing. Kosmologi Spekulatif dengan kekhasannya dalam usaha pencaharian kebenaran mengenai arkhe atau prinsip dasar alam semesta diamati melalui kajadian-kejadian alam saja. Kemudian Kosmlogi Ilmiah yang sudah masuk pada tahapan yang lebih ilmiah. Yang mana keilmiahan tersebut didasarkan pada berbagai percobaan yang dilakukan. Lalu dalam bagian berikut, terdapat bentuk pemikiran Kosologi Kritik yang meneliti dengan metodenya sendiri sistem kaidah-kaidah pemikiran pengenalan a priori. Kemudian muncul Pemikiran Kosmologi Matematik yang mengagungkan pemahaman akan alam semesta dari segi matematik dengan Albert Einstein sebagai tokoh utamanya. Lalu ada bentuk Pemikiran Kosmologi Baru hingga Sintesis yang diwarnai berbagai perdebatan beberapa kubu para pemikir hingga berpunccak pada pemikiran Whitehead mengenail alam semesta dengan Filsafat Proses. Dengan begitu kita tahu, bahwa alam semesta yang dihuni ini begitu kompleks dan selalu terjadi perubahan pengetahuan seiring berjalannya waktu.
Daftar Rujukan
Buku:
Siswanto, J. 2005. Orientasi Kosmologi. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.
Bertens, K. 1999. Sejarah Filsafat Yunani. PT Kanisius: Yogyakarta.
Chandra, F. -. Kosmologi Studi Struktur dan Asal Mula Alam Semesta-Perbandingan Perspektif Astronomi dan Buddhis.
Jurnal:
Yunus, F. 2003. Lubang Hitam Akhir Dari Ornamen Jagad Raya. Jurnal Filsafat. 34 (2): 103-110. Diakses dari: https://jurnal.ugm.ac.id/wisdom/article/view/31304. (18 Juni 2022).
Amin, M. 2007. Titik Tolak Epistemologis Filsafat Alam Semesta Immanuel Kant. Jurnal Filsafat. 17 (3): 242-254. Diakses dari: https://media.neliti.com/media/publications/85856-ID-none.pdf. (18 Juni 2022).
Cicilia, Y, Vebrianto, R, Zarkasih. 2020. Analisis Pemahaman Guru Mi Tentang Alam Semesta Meluas Dalam Perspektif Islam dan Sains. Jurnal Basicedu. 4 (1): 110-116. Diakses dari: https://jbasic.org/index.php/basicedu/article/view/294/pdf. (20 Juni 2022).

