Opini  

KONDISI PESERTA DIDIK MENENTUKAN MOTIVASI BERPRESTASI

Didukung oleh PASOLAPOS.COM

Oleh: Murniati Ina

Program Studi Pendidikan Fisika

Universitas Katolik Weetebula

Motivasi berprestasi merupakan daya penggerak untuk mencapai taraf prestasi belajar yang setinggi mungkin demi pengharapan kepada dirinya sendiri. Motivasi berprestasi dipengaruhi oleh dua factor yaitu factor internal dan factor eksternal.

 

Dalam motivasi berprestasi sangat berpengaruh pada kondisi peserta didik di mana kondisi fisik merupakan kapasitas seseorang untuk melakukan kerja fisik dengan kemampuan bertingkat. Kondisi fisik dapat diukur secara kuantitatif dan kualitatif. Mengembangkan atau meningkatkan kondisi fisik berarti mengembangkan dan meningkatkan kemampuan fisik (physical abilities) atlet. Kemampuan fisik mencakup dua komponen, yaitu komponen kesegaran jasmani (physical fitness) dan komponen kesegaran gerak (motor fitness).

 

Kondisi siswa adalah keadaan atau situasi siswa yang dapat mempengaruhi proses hasil belajar. Dengan kata lain kondisi siswa adalah suatu situasi belajar siswa yang dapat menghasilkan perubahan perilaku pada seseorang. Dengan demikian kondisi siswa yang baik merupakan syarat bagi tercapainya proses belajar mengajar yang baik. Kondisi juga berhubungan dengan penyesuaian diri. Kualitas penyesuaian diri yang baik hanya dapat diperoleh dan di pelihara dalam diri seseorang yang baik pula.

 

Masing-masing peserta didik atau siswa sebagai individu dan subjek belajar memiliki karakteristik atau ciri-ciri sendiri. Kondisi atau keadaan yang terdapat pada masing-masing siswa dapat mempengaruhi bagaimana proses belajar siswa tersebut. Dengan kondisi peserta yang mendukung maka pembelajaran tentu dapat dilakukan dengan lebih baik, sebaliknya pula dengan karakteristik yang lemah maka dapat menjadi hambatan dalam proses belajar mengajar. Keadaan peserta didik bukan hanya berpengaruh pada bagaimana belajar masing-masing peserta didik, namun dari proses belajar masing-masing siswa dapat mempengaruhi bagaimana proses belajar peserta didik lainnya. Jika pengaruh positif maka akan memberikan efek yang baik bagi proses pembelajaran, namun tentu saja juga terdapat karakteristik atau keadaan dari siswa yang buruk dan memberikan pengaruh negative bagi pembelajaran.

 

Kondisi siswa akan memberikan suatu cerminan kondisi pada suatu kelas, karena siswa merupakan komponen atau unsur pendidikan yang mempunyai peran yang sangat penting. Baik kondisi pada suatu kelas disebabkan kondisi siswa dalam keadaan stabil dan ditambah lagi dengan unsur atau komponen lainnya.

 

Menurut J.J. Hasibuan dan Moedjono : apabila pengaturan kondisi dapat dikerjakan secara optimal, maka proses belajar berlangsung secara optimal pula. Tetapi bila tidak dapat disediakan secara optimal, tentu saja akan menimbulkan gangguan terhadap belajar mengajar. Jika siswa mengalami gangguan dalam belajar maka sangat berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa.

 

Gangguan yangs erring terjadi pada kondisi siswa atau didalam diri siswa itu sendiri seperti kesehatan, ketentraman. Pada siswa perlu adanya interaksi, interaksi tersebut meliputi interaksi siswa dan guru, siswa dengan siswa lain.

 

Aspek fisiologi (kondisi kejiwaan) sangat mempengaruhi belajar dengan keadaan atau kondisi umum jasmani seseorang, misalnya menyangkut kesehatan atau kondisi tubuh (sakit atau terjadinya gangguan pada fungsi tubuh serta kebugaran tubuh). Tubuh yang kurang prima akan mengalami kurangnya motivasi belajar dan akan menimbulkan kesulitan belajar. Untuk menjaga kondisi tubuh, dianjurkan untuk menjaga atau mengatur pola istrahat yang baik dan mengatur menu makanan atau mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi.

 

Selain itu kondisi organ-organ tubuh siswa seperti tingkat keadaan indra pendengaran, penglihatan juga sangat mempengaruhi kemampuan siswa dalam menyerap informasi dan pengetahuan dalam proses belajar.

Slameto (1991) mengatakan bahwa kesehatan dan cacat tubuh juga berpengaruh terhadap belajar siswa. Proses belajar seseorang akan terganggu apabila kesehatannya terganggu. Selain itu akan cepat lelah, merasa pusing-pusing, kurang semangat, mengantuk dan sebagainya.dan lelahnya tubuh akan muncul kecenderungan untuk membaringkan tubuh (istirahat).

Factor kelelahan jasmani terlihat dengan lemah dan lelahnya tubuh dan muncul kenderungan untuk membaringkan tubuh (istirahat). Kelelahan jasmani di sebabkan oleh terjadinya kekacauan subtansi sisa pembakaran didalam tubuh sehingga darah kurang lancar pada bagian-bagian tertentu. Sedangkan kelelahan tubuh dapat di lihat dengan muncul kebosanan, sehingga minat dan dorongan untuk membuat sesuatu untuk belajar menjadi hilang dan konsentrasi belajar, itu yang selalu menghambat motivasi berprestasi siswa, karena kondisi siswa kurang mendukung dalam proses belajar. Untuk mengatasi kelelahan tersebut dapat dilakukan:

Tidur yang cukup

Istirahat yang cukup

Mengusahakan variasi dalam belajar

Mengkomsumsi obat yang tidak membahayakan tubuh

Olahraga yang teratur

 

Sadirman (2011:120) menyebutkan bahwa terdapat 3 macam hal karakteristik atau keadaan yang ada pada siswa perlu di perhatikan guru yaitu:

Karakteristik atau keadaan yang berkenaan dengan kemampuan awal siswa. Misalnya adalah kemampuan intelektual, kemampuan berfikir, dan lain-lain

Karakteristik atau keadaan siswa yang berkenaan dengan latar belakang dan status social.

Karakteristik atau keadaan siswa yang berkenaan dengan perbedaan-perbedaan kepribadian seperti sikap, perasaan, minat, dan lain-lain.

 

Dari macam-macam jenis karakteristik atau keadaan yang ada pada siswa guru dapat menentukan data-data apa saja yang perlu di ketahui informasinya dan digali dari peserta didik. Kondisi pada peserta didik juga senantiasa dapat mengalami perubahan, guru hendaknya juga harus memantau segala perubahan keadaan yang ada pada siswa baik sebelum pembelajaran dimulai, saat pembelajaran, hingga paska pembelajaran dan evaluasi.

Tinggalkan Balasan