TAMBOLAKA, PASOLAPOS.COM=— Menyikapi jeritan dan keluhan para petani terkait kelangkaan serta keterlambatan distribusi pupuk bersubsidi,(6/72026) Dinas Pertanian Kabupaten Sumba Barat Daya menyiapkan ruang rapat koordinasi untuk berdiskusi mencari jalan keluar terbaik.
Pertemuan yang berlangsung di ruang rapat Dinas Pertanian ini diinisiasi oleh pengurus Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), Agus Wakur Kaka. Rapat strategies ini pihak jajaran ketua kelompok tani, serta para pemilik toko distributor pupuk di wilayah tersebut, rapat dipimpin langsung oleh Pengurus KTNA Agus Wakur Kaka, juga di hadiri langsung Kepala Dinas Pertanian, Y. Frinn Tuka.
Dalam pertemuan tersebut menghurai Benang Kusut Distribusi dan Data.
Diskusi berjalan cukup dinamis dan hangat. Para ketua kelompok tani secara terbuka menyampaikan keluh kesah mereka mengenai kondisi di lapangan, di mana pupuk bersubsidi seringkali langka saat musim tanam tiba, atau baru datang ketika momentum pemupukan sudah lewat.
Ada tiga poin krusial yang menjadi fokus utama dalam pembahasan mencari solusi bersama ini:
1.Kelangkaan Pupuk di Tingkat Petani:Menelusuri rantai pasok dan kuota dialokasikan, guna mengetahui apakah masalah berada pada keterbatasan stok dari pusat atau kendala teknis lainnya.
2.Keterlambatan Distribusi: Pihak distributor dan PT. Pupuk Indonesia didesak untuk mengevaluasi jalur logistik agar penyaluran pupuk bisa tepat waktu sesuai dengan kalender tanam petani.
3.Validasi dan Pengajuan Data Kelompok Tani: Masalah administratif seperti keakuratan data e-RDKK (Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok) seringkali menjadi batu sandungan. Dinas Pertanian meminta para ketua kelompok untuk lebih proaktif dan teliti dalam pengajuan data agar tidak ada petani yang berhak tetapi terlewatkan.
Menurut Agus Wakur Kaka kami dari kelompok mendengar dari informasi dari teman teman media saya memberikan apresiasi kepada Toko Matahari yang sudah membantu petani untuk distribusi ke setiap kelompok.karena prosesnya panjang sistim pengajuan baru di lakukan pengiriman dari Jakarta ke Kupang baru menuju Sumba, lalu bagaimana dengan 4 kabupaten Sumba berarti masih di bagikan masing masing kabupaten,saya sebagai KTNA kepada para pengurus kelompok tani harus jujur menyampaikan kepada anggota kelompok Karana harga perkarung di Toko Matahari Urea Rp.90.000,- NPK.Rp.92.000,-.
Lalu dari Toko Matahari Eduard Aldo menyampaikan biaya pengantaran sampai kelompok penerima manfaat harga kesepakatan bersama seandainya harga perkarung Rp.10 ribu atau Rp.5 ribu itupun tergantung jarak tempuh dekat atau jauh.sehingga yang disiapkan oleh anggota kelompok harga pupuk sedangkan biaya angkut tergantung kesepakatan,pintanya.
Dalam pantauan media ini selama ini harga pupuk di masyarakat menembus terendah perkarung 50 kg Rp.150.000,-Berarti ini mencekik leher petani,siapakah yang bermain seperti ini?
Komitmen Bersama Demi Ketahanan Pangan
Kepala Dinas Pertanian, Y. Frinn Tuka, menegaskan bahwa pemerintah tidak akan tinggal diam melihat kesulitan yang dihadapi para petani. Rapat ini diharapkan bukan sekadar seremonial, melainkan menghasilkan komitmen nyata dari PT. Pupuk Indonesia dan pengecer (distributor) untuk mempercepat birokrasi penyaluran.
“Petani adalah ujung tombak ketahanan pangan kita. Masalah pupuk ini harus segera diurai dari hulu ke hilir. Data kelompok tani harus beres, dan pihak lini distribusi harus berkomitmen tepat waktu,” ujar Agus dalam peserta rapat.
Dengan adanya pertemuan tatap muka antara petani, penyedia stok, distributor, dan pemerintah sebagai regulator, diharapkan mata rantai masalah pupuk bersubsidi di Tambolaka dapat segera teratasi demi menyongsong musim tanam yang lebih produktif.
Redaksi: Paul.

